Tag

,

Love Really Hurt Β© Reza C Warni
Cast : Lee Minhyuk, Yook Sungjae, Jung Ilhoon, Lim Hyunsik,
Other cast : members BTOB
Genre : angst, Hurt/comfort
Length : Chaptered
Rating : PG+13
Type : Shounen-ai, Boy X Boy, BL
Warning : YAOI, OOC, Minhyuk uke, Sungjae seme, Ilhoon seme! Tidak suka, jangan baca!! GaJe, Typo(s) bertebaran!

AnnyeongπŸ™‚
Aku bawa ff MinJaeπŸ™‚ ff ini udah pernah aku post di FFn. Jadi, bagi yg udah pernah baca di FFn, itu saia sendiri yang post! Jd jangan salah paham! Oke, silahkan baca bagi yang berminat.

Kelas itu sangat ribut. Para siswa asyik bercanda, sedangkan siswinya bergosip-ria.
“Ehem” seorang namja paruh baya memasuki kelas itu. Semua murid diam lalu berlari duduk di tempat masing-masing.
“selamat pagi anak-anak” sapa namja paru baya.
“Pagi pak” jawab murid-murid.
“Hari ini kalian akan mendapatkan teman baru” namja paru baya itu memandang ke arah pintu, “ayo masuk”
Seorang namja berperawakan tinggi, ganteng, dan ‘dingin’ itu memasuki kelas.
“Dia akan menjadi teman baru kalian” ucap namja paru baya, “perkenalkan dirimu, nak” lanjutnya.
“Perkenalkan nama saya Yook Sungjae, pindahan dari Jepang” ucap namja yang bernama Sungjae itu dengan ekspresi dingin dan nada bicara yang dingin pula.

Tunggu! Nada bicara dingin? Hey! Itu menarik perhatian seorang namja yang tadinya sedang menatap pemandangan luar jendela kini menatap Sungjae saat mendengar suaranya.

‘Wah, tampan, tinggi, suaranya….. Aku suka’ batin namja itu, ‘ya! Lee Minhyuk! Ingat, kau sudah memiliki Ilhoon, jangan berpaling!’ Lanjut batin namja itu yang ternyata bernama Lee Minhyuk.

Tatapannya tak teralihkan dari Sungjae yang sedang berjalan ke kursi kosong yang ada di depannya.
“Hai, Minhyuk imnida” entah mengapa, saat Sungjae tepat duduk di depannya, Minhyuk langsung mengajaknya berkenalan. Padahal Minhyuk paling anti jika menyapa duluan. Sungjae berbalik sebentar untuk melihat Minhyuk lalu kembali menatap ke depan. Ia tak membalas ucapan Minhyuk.
“Hey” Minhyuk menepuk bahu Sungjae. Sungjae menoleh dengan tatapan tajamnya.

Glek!

Minhyuk menelan ludahnya dengan susah payah.
“Aku Lee Minhyuk. Panggil aku Minhyuk” ucap Minhyuk sambil memperlihatkan senyum termanisnya.
“Kau tak perlu mengulangnya dua kali, aku tahu namamu Minhyuk” ucap Sungjae dingin.
“Kau tahu darimana?” Tanya Minhyuk dengan tatapan senang.
“Bukankah saat aku duduk tadi kau sudah memperkenalkan diri” Sungjae kembali menatap ke depan.

‘Dingin….’ Batin Minhyuk, ‘tapi aku suka’ lanjut batinnya.

~oOo~

“Chagiya~” Ilhoon memasuki kelas Minhyuk, ia menghampiri Minhyuk yang sedang bercanda bersama Peniel, Changsub dan Eunkwang.
“Annyeong, chagiya~” balas Minhyuk. Chup, Ilhoon mengecup bibir Minhyuk sekilas. Wajah Minhyuk memerah, ia melirik Sungjae. Sungjae sedang mendengarkan musik dari earphone sambil mengutak-atik smartphonenya.

‘Syukurlah, dia tidak melihatnya’ batin Minhyuk.
‘Ya! Kenapa kau jadi takut kalau dia melihatmu berciuman dengan Ilhoon? Wae?’ Batin Minhyuk lagi.

“Kaja kita ke kantin” Ilhoon merangkul pinggang Minhyuk. Mereka berjalan keluar kelas. Saat tiba di pintu kelas, Minhyuk berbalik melihat Sungjae.

‘Hah~ dia tidak peduli..’ Batin Minhyuk.

~oOo~

“Kau kenapa?” Tanya Ilhoon. Mereka berdua duduk di bangku taman. Setelah jam sekolah usai, mereka langsung kencan di taman dekat sungai Han.
“Aniya” Minhyuk menggeleng sambil tersenyum, lebih tepatnya berusaha tersenyum.
“Jangan tersenyum seperti itu” ucap Ilhoon.
“Mian, chagi” ucap Minho dengan tampang memelas. Ia tahu namja’nya’ itu akan badmood jika sudah seperti ini.
“Wah, es krim!” Seru Minhyuk senang saat melihat penjual es krim.

Minhyuk menatap Ilhoon dengan puppy eyes-nya.
“Chagiya~ belikan aku ne?” Minhyuk menggosok-gosokkan telapak tangannya sambil menunjukkan puppy eyes-nya. Ilhoon yang melihat tingkah Minhyuk jadi gemas sama pacarnya yang kelewat manis itu.
“Baiklah” ucap Ilhoon sambil mengacak-acak rambut Minhyuk.
“Gomawo chagiya” Minhyuk mencium bibir Ilhoon sekilas. Ilhoon pergi membelikan es krim sedangkan Minhyuk masih duduk di bangku taman itu.

~oOo~

Minhyuk memasuki kelasnya dengan senyum yang mengembang.
“Annyeong” sapa Minhyuk pada ia saat berjalan di samping meja Sungjae. Sungjae meliriknya sebentar lalu kembali fokus pada smartphone-nya.
Minhyuk mengendikkan(?) Kedua bahunya lalu berjalan ke mejanya yang berada di belakang Sungjae.
“Ya! Kau kenapa?” Tanya Peniel, teman sebangku Minhyuk.
“Ani, aku hanya senang saja” ucap Minhyuk sambil memandang punggung Sungjae, senyumnya masih merekah.
“Cih! Kau seperti orang yang sedang jatuh cinta saja” gumam Peniel. Minhyuk menoleh ke samping kirinya, tempat Peniel duduk.
“Mworago?” Tanya Minhyuk.
“Kau seperti orang yang sedang jatuh cinta” ucap Peniel.
“Jinjja?” Peniel mengangguk. Minhyuk melirik ke arah Sungjae.

‘Apakah aku jatuh cinta padanya…’ Batin Minhyuk.

~oOo~

Sudah beberapa bulan ini Minhyuk sering memandang Sungjae. Ia merasa bahwa ia mencintai Sungjae sejak pertama kali melihatnya.

“Eotteohke?” Gumam Minhyuk.
“Aku mencintai Ilhoonnie, tapi aku juga mencintai Sungjae. Yaa, walaupun Sungjae selalu mengabaikan sapaanku” gumam Minhyuk. Ia memandang langit-langit kamarnya.
“Huaaaahh! Eotteohke? Aku ingin bersama Sungjae, tapi aku juga tak mau berpisah dengan Ilhoonnie” Minhyuk mengacak-acak rambutnya, frustasi.
“Ah, bagaimana jika aku tetap berpacaran dengan Ilhoonnie, tapi besok aku menyatakan perasaanku pada Sungjae?” Gumam Minhyuk.
“Tapi itu kan artinya aku tidak setia. Tidak! Aku harus menyatakan perasaanku pada Sungjae” tekad Minhyuk.
“Ya, aku harus menyatakan perasaanku pada Sungjae” Minhyuk tersenyum.

‘Mianhae, Ilhoonnie…’ Batin Minhyuk.

~oOo~

“Sungjae~ya” panggil Minhyuk yang sudah berdiri di samping meja Sungjae. Sungjae menatap Minhyuk, kedua alisnya terangkat seperti bertanya -ada-apa?-.
“Ada yang ingin aku katakan padamu” ucap Minhyuk.
“Apa?” Tanya Sungjae dingin.
“Jangan disini. Bagaimana kalau di taman sekolah?” Tanya Minhyuk.
“Kenapa kalau di sini?” Tanya Sungjae.
“Di sini banyak siswa” ucap Minhyuk.
“Bukankah di taman sekolah juga ada siswa?” tanya Sungjae.
“Aish! Baiklah, bagaimana kalau kita bicara di atap gedung?” Tanya Minhyuk.
“Tidak buruk” mereka berdua keluar kelas berjalan menuju atap gedung.

~oOo~

“Apa yang ingin kau katakan?” Mereka berdua duduk di pinggir. Dari tempat mereka sekarang, mereka dapat melihat siswa-siswa yang sedang bermain di lapangan.
“Uhm…..” Minhyuk menghela napas lalu menghembuskannya, “aku mencintaimu. Maukah kau menjadi pacarku?” Tanya Minhyuk. Sungjae membulatkan matanya, ia mengerjap-ngerjap beberapa kali.
“Kau… Bukannya kau bersama Ilhoon? Cih! Ternyata kau bukan tipe namja setia” ucap Sungjae dingin.
“Terserah kau mau mengataiku apa, aku mohon jadilah pacarku” pinta Minhyuk.

‘Aish! Kenapa aku jadi seperti pengemis begini…’ Batin Minhyuk.

“Shireo!” Tolak Sungjae.
“Jebal~” Minhyuk menunjukkan puppy eyes-nya.
“Aku tidak mau” Sungjae bangkit dari duduknya. Minhyuk menarik tangan Sungjae.
“Hanya 16 hari saja, jebal~” pinta Minhyuk.
“Aku tidak mau! Jangan memaksaku” sungjae menghempaskan tangan Minhyuk lalu pergi dari situ.

Minhyuk menarik napas lalu menghembuskannya.

‘Haahh~ aku malas masuk kelas, lebih baik membolos saja…’ Batin Minhyuk. Ia duduk bersender pada penghalang, memasang earphone lalu menutup kedua matanya. Ia sebenarnya cukup sedih diperlakukan seperti itu.

~oOo~

‘Cih! Hanya karna ditolak, dia membolos? Dasar!’ Batin Sungjae sambil menoleh ke bangku Minhyuk yang kosong.

Ring~

Bel pulang berbunyi. Semua siswa-siswi mulai keluar kelas satu persatu. Sungjae masih setia di dalam kelas. Ia melirik tas Minhyuk.
“Ck! Anak itu, kemana dia?” Gumam Sungjae.

Drrrtttt~ Drrrtttt~

Smartphone Sungjae bergetar. Ia melirik layar ponselnya. Panggilan masuk dari sang ayah. Ia menekan tombol hijau.
“Yoboseyo” sapa Sungjae.
“…..”
“Waeyo appa?” Tanya Sungjae.
“….”
“mwo? Kenapa appa menanyakan itu?” Tanya Sungjae.
“….”
“Aish! Aku tidak mau appa” tolak Sungjae.
“….”
“Aku sudah memiliki pacar” ucap Sungjae ragu.
“….”
“Iya, sebentar aku akan membawanya ke rumah” ucap Sungjae.
“…”
“Annyeong”

Tuuuttt~ tuuuttt~

Sungjae mengacak rambutnya frustasi.
“Eotteohke?” Gumamnya.
“Aku kan tidak memiliki pacar, lalu siapa yang akan aku bawa ke rumah?”
“Tapi kalau aku tidak membawa seorang pacar ke rumah, aku pasti akan dijodohkan. Aish! Eotteohke?” Sungjae terlihat frustasi. Matanya meneliti ruangan kelas. A-ha!
“Lee Minhyuk!” Seru Sungjae. Matanya menemukan tas Minhyuk dan dia mengingat Minhyuk tadi menembaknya. Ia mengambil tas itu.
“Dimana dia?” Gumamnya, “ah mungkin masih di atap gedung” Sungjae berlari menuju atap gedung.

~oOo~

“Haaah… Haaah…. Haahh….” Sungjae mengatur napasnya. Matanya membulat melihat Minhyuk tertidur pulas dengan earphone di telinganya.
“Ckck…. Pantas saja dia tidak masuk kelas matematika tadi” gumam Sungjae. Ia duduk di samping Minhyuk yang masih tertidur.
“Hey! Bangun” Sungjae menggoyangkan lengan Minhyuk.
“Ungh~” lengguh Minhyuk. Ia masih tertidur pulas.
“Aish! Anak ini” Sungjae menatap wajah Minhyuk.

Deg!

‘Kalau diperhatikan, ternyata anak ini manis juga…’ Batin Sungjae.

Sungjae terus memperhatikan Minhyuk. Ia menyenderkan kepalanya ke penghalang, menyimpan kepala Minhyuk di bahu kirinya. Ia memejamkan matanya.

~oOo~

“Ehm..” Minhyuk membuka matanya. Ia merasa aneh kenapa kepalanya seperti menindih sesuatu. Matanya melirik ke kanan. Tubuh seseorang! Ah, dia sedang bersandar pada bahu seseorang!

Minhyuk menegakkan kepalanya. Ia menoleh ke kanan, matanya membulat saat menemukan sosok Sungjae sedang tertidur pulas di sampingnya. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali.

‘Apa tadi aku tertidur dengan kepala yang bersandar di bahu Sungjae?” Batin Minhyuk.

Ia melihat wajah Sungjae.
“Tampan” gumamnya sambil menelusuri wajah Sungjae dengan jari telunjuknya.
“Aku tahu” ucap Sungjae tiba-tiba, matanya perlahan terbuka. Minhyuk terkejut, ia menjauhkan tangannya.
“K..kau…” Ucap Minhyuk terbata. Sungjae memperbaiki duduknya.
“Aku mau jadi pacarmu” ucap Sungjae. Minhyuk semakin terkejut dibuatnya.
“M..MWO?!?!” Minhyuk berseru kaget.
“Wae? Kau tidak senang” Tanya Sungjae.
“A…aniya… Aku sangat senang. Tapi kenapa kau berubah fikiran?” Tanya Minhyuk.
“Ini karena Ayah-ku, jika hari ini aku tak membawa pacar-ku ke rumah, ia akan menjodohkanku” jelas Sungjae. Terlihat jelas raut kekecewaan Minhyuk.
“Oh” hanya itu yang diucapkan Minhyuk.
“Oh iya, ini hanya 16 hari, ingat itu” ucap Sungjae. Minhyuk mengangguk lemah.
“Sekarang jam berapa?” Tanya Sungjae. Minhyuk melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Matanya membulat.
“Stengah 6” ucapnya.
“Mwo?” Sungjae terkejut, “berarti aku tidur selama 4 jam stengah” gumam Sungjae.
“Kaja kita ke rumahku” ucap Sungjae.
“Untuk?” Tanya Minhyuk.
“Bukankah sudah ku katakan? Ayahku ingin bertemu dengan pacar-ku” ucap Sungjae.
“Baiklah, kaja” mereka berdua berdiri. Berjalan menuruni tangga.
“Eh, kita ke kelas dulu. Aku belum mengambil tasku” ucap Minhyuk.
“Ini” Sungjae menunjukkan tas Minhyuk yang sedari tadi ia pegang.
“Mwo? Kenapa bisa ada di kau?” Tanya Minhyuk.
“Tadi aku ingin membawakan tas ini padamu, tapi karena melihatmu sedang tidur pulas aku tak tega membangunkanmu” jelas Sungjae. Minhyuk mengangguk sambil mengambil tasnya.
“Gomawo” ucap Minhyuk sambil tersenyum.

~oOo~

“Aku pulang” seru Sungjae saat memasuki rumahnya.

‘Wah, rumahnya besar sekali dan sangat elegan…’ Batin Minhyuk.

Sungjae menarik tangan Minhyuk memasuki rumahnya.
“Kau sudah pulang?” Terdengar suara ayah Sungjae dari ruang tengah. Sungjae segera menghampiri appa-nya.
“Annyeong appa” sapa Sungjae.
“A..annyeong…ahjussi” sapa Minhyuk.

Ayah Sungjae memandang Minhyuk dari atas sampai bawah kemudian berdiri menghampiri Minhyuk. Jantung Minhyuk berdetak kencang.
“Ehem” ayah Sungjae berdehem, “apa kau pacar Sungjae?” Tanya ayah Sungjae. Glek, Minhyuk menelan ludahnya dengan susah payah.
“Ne.. Ahjussi” Minhyuk mengangguk.
“Siapa namamu anak muda?”
“Lee Minhyuk imnida” ucap Minhyuk sambil membungkukkan badannya.
“Lee Minhyuk” ulangan ayah Sungjae, “apa pekerjaan ayahmu?” Lanjutnya.
“Seorang pengusaha, ahjussi” ucap Minhyuk.
“Siapa nama ayahmu?”
“Lee Sungmin”

Ayah Sungjae terus mengintrogasi(?) Minhyuk. Minhyuk awalnya sangat tegang, namun sekarang ia sangat relax. Sungjae terkadang ingin ketawa melihat wajah Minhyuk yang ‘gimana gitu’ selama di introgasi(?) Oleh ayahnya.

~oOo~

“Hahahaha” Sungjae tertawa terbahak-bahak. Minhyuk mem-poutkan bibirnya. Mereka sekarang berada di mobil Sungjae. Sungjae mengantar Minhyuk pulang.
“Berhentilah tertawa” ucap Minhyuk ketus.
“Haha… Wajahmu tadi lucu sekali” ucap Sungjae diiringi tawanya.
“Ishh” Minhyuk memasang earphone lalu memejamkan matanya, berpura-pura tidak mendengar Sungjae. Sungjae melirik Minhyuk lalu fokus menyetir.

~oOo~

“Gomawo” ucap Minhyuk saat sudah sampai di depan rumah Minhyuk.
“Ne, turunlah” suruh -atau lebih tepatnya usir mungkin?- Sungjae.
“Ne” Minhyuk memandang bibir Sungjae, ia menggigit bibir bawahnya.
“Wae?” Tanya Sungjae.
“A…aniyo” ucap Minhyuk sambil menggeleng. Sungjae mengerutkan keningnya. Minhyuk membuka pintu mobil itu, saat ia ingin keluar, Sungjae menahan tangannya. Minhyuk berbalik…

Chup!

Sungjae mencium kening Minhyuk.
“Keluarlah” suruh Sungjae. Minhyuk terdiam beberapa saat, lalu keluar dari mobil itu.
“Hati-hati di jalan” Minhyuk melambaikan tangannya. Sungjae langsung meninggalkan tempat itu.
“Haah~, walau hanya kening, tak apalah. Yang penting Sungjae menciumku” Minhyuk tersenyum senang lalu masuk ke dalam rumahnya.

~oOo~

Minhyuk memasuki kelasnya, wajahnya tak seperti kemarin. Hari ini wajah terlihat sedikit murung. Saat melewati meja Sungjae, ia tak menyapa Sungjae seperti biasanya. Itu membuat Sungjae merasa heran.

“Minhyuk~ah, kemarin kau kemana?” Tanya Peniel saat Minhyuk sudah duduk di bangku.
“Ne, kau kemana? Tidak biasanya kau membolos” sahut Eunkwang. Minhyuk hanya diam, ia menatap ponselnya dengan nanar.
“Waeyo?” Tanya Changsub menghampiri meja Minhyuk.
“Eotteohke? Kemarin Ilhoon menelponku sebanya 26 kali dan ia juga mengirim pesan sebanyak 30. Semua pesannya sama ‘chagi, kau dimana? Kenapa kau membolos? Aku khawatir’…” Ucap Minhyuk dengan wajah lesu.
“Memangnya kemarin kau simpan dimana ponselmu sampai tak menyadari ada panggilan masuk?” Tanya Peniel.
“Kemarin aku tertidur di atap gedung. Saat aku bangun, ponselku sudah mati” jelas Minhyuk.
“Astaga, bagaimana bisa kau tertidur di atap gedung?” Tanya Changsub. Minhyuk melirik ke arah Sungjae sebentar. Minhyuk menggeleng.

“Selamat pagi anak-anak” Changsub dan Eunkwang kembali ke tempat duduk mereka.

~oOo~

Minhyuk berniat pergi ke kelas Ilhoon namun saat melewati bangku Sungjae, Sungjae menahan tangannya. Minhyuk memandang Sungjae.
“Ada apa?” Tanya Minhyuk.
“Temani aku makan di Kantin” ajak Sungjae.
“Mian, aku tak bisa. Aku harus menemui Ilhoonnie” ucap Minhyuk.
“Lee Minhyuk, aku ini-”
“Baiklah, tapi tidak sekarang, setelah aku menemui Ilhoonnie” ucap Minhyuk lalu melepas tangan Sungjae yang menahan tangannya. Ia segera berlari keluar kelas.
“Ck!” Sungjae berdecak kesal, ia memutuskan untuk berjalan-jalan mengelilingi sekolah.

~oOo~

“Haah… Haah… Haah..” Minhyuk mengatur napasnya, ia melihat Ilhoon sudah menunggunya di bangku taman sekolah. Ia berlari menghampiri Ilhoon.
“Annyeong, chagiya” sapa Minhyuk. Ilhoon meliriknya sebentar lalu menatap ke depan sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
“Chagiya mianhae” Minhyuk duduk di samping Ilhoon, menatap ke arah Ilhoon. Ilhoon tak merespon sama sekali.
“Chagiya, aku benar-benar minta maaf” ucap Minhyuk dengan wajah memelas.
“Kemarin saat pulang sekolah aku mampir ke rumahmu, ibumu bilang kau belum pulang. Kemana saja kau kemarin, eoh?” Tanya Ilhoon dingin. Glek! Minhyuk menelan ludahnya dengan susah payah.
“Kemarin aku tertidur di atap gedung sekolah” ucap Minhyuk. Ilhoon mengerutkan keningnya, ia menatap Minhyuk.
“Oh ya? Lalu kenapa semalam kau tak menelpon atau mengirim pesan?” Tanya Ilhoon.
“Kemarin ponselku kehabisan daya, aku bangun tidur jam stengah 6. Saat sampai di rumah aku langsung men charge ponselku. Karena lelah, aku tertidur” jelas Minhyuk.
“Oh ya?”
“Chagiya, nan anmideo?(Kau tidak mempercayaiku?)” Tanya sambil memasang wajah sedihnya. Ilhoon melirik Minhyuk kemudian menghela napas, ia lalu menghadap ke arah Minhyuk.
“Aku mempercayaimu” jawab Ilhoon lalu mencium bibir Minhyuk. Mereka berciuman cukup lama.

Sungjae yang sedang berjalan mengelilingi sekolah, saat melewati taman sekolah ia melihat adegan Ilhoon dan Minhyuk yang tengah berciuman. Ia mengepalkan tangannya lalu berjalan meninggalkan taman sekolah itu.

~oOo~

Pelajaran terakhir baru usai. Semua murid mulai meninggalkan sekolah.
“Minhyuk~ah, kami pulang duluan” ucap Eunkwang.
“Ne” jawab Minhyuk. Eunkwang, Changsub dan Peniel segera keluar kelas. Kini tinggal Sungjae dan Minhyuk di dalam kelas.
“A…aku pulang duluan” ucap Minhyuk sambil memakai tasnya. Saat melewati bangku Sungjae, Sungjae menahan tangan Minhyuk.
“Waeyo?” Tanya Minhyuk.
“Temani aku pergi ke mall” ucap Sungjae.
“Mwo? Mian-”
“Tidak ada penolakan” ucap Sungjae penuh penekanan pada tiap kata.
“Ta…tapi aku ada janji dengan Ilhoonnie” ucap Minhyuk sambil menatap wajah Sungjae.
“Mwo? Tadi aku sudah membiarkanmu bersamanya, sekarang kau harus bersamaku” tegas Sungjae.
“tapi Ilhoonnie sudah menungguku di gerbang” ucap Minhyuk. Mendengar nama Ilhoon membuat Sungjae mengingat kejadian di taman tadi.
“Ck!” Sungjae berdecak kesal lalu mencium bibir Minhyuk dengan kasar. Ia melumat bibir Minhyuk, menggigit bibir bawah Minhyuk membuat Minhyuk menjerit tertahan, saat Minhyuk menjerit Sungjae memasukkan lidahnya ke dalam mulut Minhyuk. Karna Minhyuk tak membalas ciumannya, Sungjae segera mengakhiri ciuman mereka.
“Ck!” Sungjae melepaskan tangan Minhyuk dengan kasar lalu berjalan keluar kelas.

Minhyuk mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia menyentuh bibirnya.
“Argh” ringisnya. Ia mengeluarkan ponselnya lalu memotret dirinya. Ia melihat foto yang baru di ambilnya.
“Huumm….bibirku terluka” gumamnya lalu berjalan keluar kelas.

~oOo~

“Kau kemana saja chagi? Kenapa lama sekali?” Tanya Ilhoon yang sudah lelah menunggu Minhyuk di gerbang.
“Mian, tadi saat jalan aku terjatuh dan inilah hasilnya” Minhyuk menunjuk bibirnya yang terluka.
“Aigoo~, lain kali kalau jalan hati-hati. Kaja” Ilhoon menaiki motornya yang sedari tadi setia bertengger di samping Ilhoon. Minhyuk menaiki motor Ilhoon.

~oOo~

“Arggghhh!” Sungjae mengacak-acak rambutnya, frustasi.
“Apa yang telah aku lakukan tadi?” Gumamnya.
“Mengapa aku melakukannya?”
“Ah! Bibirnya tadi terluka… Argh!” Sungjae memukul-mukul kepalanya sendiri.
“Apa yang harus aku lakukan saat bertemu dengannya?”

~oOo~

Minhyuk mengerutkan keningnya saat melihat Sungjae baru memasuki kelas. Biasanya kan Sungjae datang lebih dulu daripada dia?
“Kenapa kau baru datang?” Tanya Minhyuk saat Sungjae sudah duduk di bangku depannya.
“Kenapa? Masalah buatmu kalau aku baru datang?” Tanya Sungjae ketus.

‘Aigoo~ apa yang baru kau katakan?’ Gerutu batin Sungjae.

“A..aniya…” Minhyuk menggeleng, “apa kau masih marah?” Tanyanya.
“Menurutmu?” Tanya Sungjae ketus.
“Mianhae, jeongmal mianhae” ucap Minhyuk.
“Kalian berdua kenapa?” Tanya Peniel yang sedari tadi mendengar percakapan Minhyuk dan Sungjae. Minhyuk menengok ke samping kanannya.
“A…aniya” ucap Minhyuk sambil menggeleng. Peniel hanya mengangguk.

~oOo~

“Selamat pagi anak-anak” sapa Leeteuk sonsaengnim.
“Pagi pak” jawab para murid.
“Hari ini kalian akan memiliki teman baru, dia pindahan dari Busan. Silahkan masuk nak” seorang namja manis, tinggi, tampan memasuki ruangan kelas itu.
“Perkenalkan dirimu, nak” ucap Leeteuk sonsaengnim.
“Annyeong haseyo, jeoneun Lim Hyunsik, bangapseumnida” ucap namja bernama Lim Hyunsik itu atau lebih singkatnya Hyunsik.
“Oke, silahkan cari bangku yang kosong” Hyunsik mengangguk lalu berjalan mencari bangku kosong, ia duduk di belakang Minhyuk.
“Baik, kita mulai pelajaran hari ini” ucap Leeteuk sonsaengnim.

~oOo~

“Hai, aku Peniel” sapa Peniel sambil menengok ke arah Hyunsik.
“Hai, Peniel. Bangapseumnida” ucap Hyunsik.
“Hai, aku Eunkwang. Ini Chansub dan yang ini Minhyuk” ucap Eunkwang sambil menunjuk Changsub dan Minhyuk.
“Hai, bangapta”
“Kau dari Busan, kan? Kenapa kau pindah ke sini?” Tanya Changsub.
“Aku aslinya orang Seoul, tapi saat aku kelas 3 SMP ayahku pindah tugas ke Busan. Mau tak mau aku dan keluargaku juga harus pindah ke Busan. Sekarang ayahku kembali bertugas di Seoul dan di sinilah aku” jawab Hyunsik. Mereka mengangguk-nganggukkan kepala mereka-tanda bahwa mereka mengerti.

“Chagiya” sebuah suara mengalihkan perhatian mereka. Hyunsik terdiam saat melihat sosok itu, sosok seseorang yang sangat familiar baginya. Sosok itu menghampiri mereka, tak menyadari keberadaan Hyunsik atau memang ia tak mengenal Hyunsik.
“Annyeong” sosok itu menyapa mereka. Matanya membulat saat melihat sosok Hyunsik. Mereka berdua berpandangan cukup lama.

‘Ba…bagaimana bisa?’ Batin sosok itu.

TBC