Tag

, , , , , , , , , ,

Started With A Kiss © Reza C Warni
Xi Luhan | Oh Sehun | Kim Jongin
Rated. T
Romance
BoyXBoy, BL, Shounen-ai
Summary : “Aku, Xi Luhan, yang memiliki peran seperti Oh Hani dalam Drama ‘Naughty Kiss’ atau Kotoko Aihara dalam Dorama ‘Itazura Na Kiss’. Apakah kisahku akan berakhir bahagia seperti mereka?’
Warning : Typo anywhere, bahasa tidak baku, terinspirasi dari drama ‘Naughty Kiss’ dan dorama ‘Itazura Na Kiss’, jika tidak suka silahkan close tab.

Happy reading~

Luhan menelan ludahnya. Ia menatap namja yang kini tengah berjalan ke arahnya kemudian menatap surat yang ia genggam. Keringat dingin mulai menggerangi tubuhnya, jantungnya berdebar tak karuan, tangannya gemetaran. Ia kembali menelan ludahnya. Dengan langkah sempit ia menghampiri namja itu.
Saat tiba di depan namja itu, dengan kepala menunduk ia menyerahkan suratnya.
“Se…Sehun, ku…kumohon ba…bacalah.” Ucap Luhan gemetaran. Namja bernama Sehun memandang Luhan dengan tatapan datar.
“Ma..Maukah-Argh” belum sempat Luhan menyelesaikan ucapannya Sehun berjalan, menyenggol bahu Luhan, kemudian berlalu dari situ. Surat yang tadi dipegang Luhan kini terbang-akibat dari senggolan Sehun- dan mendarat tepat di depan kaki seorang namja tampan yang berada di sekitar situ. Semua siswa yang ada di koridor tersebut berseru terkejut, berita bahwa Luhan ditolak oleh Sehun yang notabene hoobae Luhan mulai tersebar.

Luhan dengan memegang bahunya yang tersenggol berjalan ke arah namja tampan itu kemudian sedikit berjongkok untuk mengambil suratnya. Setelahnya Luhan mendongak menatap namja itu sekilas lalu berlari menjauh dari koridor. Namja tampan tadi menatap Luhan dengan tatapan yang sulit diartikan.

~oOo~

Luhan menyembunyikan wajahnya dalam lipatan tangannya di atas meja. Seluruh siswa-siswi di ruangan itu memandang Luhan sambil menggosipkan kejadian di koridor tadi. Namja manis yang duduk di samping kiri Luhan menepuk-nepuk bahu Luhan berharap tepukannya dapat menenangkan Luhan.

“Luhan! Berani sekali dia menolakmu! Memangnya dia siapa?” Kesal Baekhyun.
“Anak pengusaha terkenal di Asia” jawab Minhyuk, namja yang menepuk-nepuk bahu Luhan.
“Memangnya dia bisa apa?” Kekesalan Baekhyun memuncak.
“Dia bisa segalanya. Memainkan alat musik, pandai dalam bidang olahraga dan akademik. Dan jangan lupa dia pandai memikat hati siapapun dalam sekali pandang” balas Minhyuk santai.
Baekhyun menatap tajam ke arah Minhyuk, protes karena Minhyuk selalu membalasnya.
“Ya! Memangnya dia pintar? Dasar tiang listrik, Oh Sehun!” Teriak Baekhyun yang semakin kesal.
“Dia sangat pintar, asal kau tahu.” Balas Minhyuk santai, “hey, lebih baik memiliki tinggi sepertinya daripada pendek seperti dirimu” lanjut Minhyuk kalem.
Baekhyun langsung memukul kepala Minhyuk menggunakan kamus yang tebalnya muhammah -_-
“Ya! Kenapa kau selalu membalas perkataanku? Dan! A…apa tadi? Pendek? Yak! Aku tidak pendek!” Balas Baekhyun seraya berkacak pinggang. Baekhyun mulai memukuli Minhyuk. Namun Minhyuk selalu menghindar dan hanya memelet ke arah Baekhyun. Luhan yang berada di tengah mereka segera menegakkan badan, matanya memerah, wajahnya terlihat sangat menyedihkan. Seluruh siswa-siswi di kelas tersebut memandang Luhan, begitupula dengan Baekhyun dan Minhyuk, mereka berhenti bertengkar dan kemudian memandang Luhan.

“Apakah aku jelek?” Tanya Luhan tiba-tiba. Baekhyun dan Minhyuk saling memandang dan kembali menatap Luhan.
“Tidak! Kau malah sangat cantik-eh tampan maksudku!” Jawab Baekhyun.
“Tapi kenapa dia menolakku?” Tanya Luhan.
“Matanya katarak mungkin! Masa orang secan-setampan dirimu ditolak! Kau memiliki fans yang banyak. Itu sudah membuktikan bahwa kau tampan, Luhan.” Balas Baekhyun.
“Apakah aku bisa membuatnya jatuh cinta padaku?” Tanya Luhan lagi dengan tatapan menerawang ke depan.
“Tentu saja. Wajahmu tampan, orangtuamu pengusaha terkenal di China, kau pintar, baik. Tak ada cela untuk tidak menyukaimu” ucap Minhyuk.
“Benarkah? Hahaha, aku akan berusaha memikatnya, fighting!” Luhan berdiri tersenyum bahagia seraya mengepalkan tangannya ke udara.

~oOo~

“Hey! Luhan sunbae ditolak Oh Sehun!” Seru seorang siswa.
“Huaaah~ Luhan sunbae kenapa tidak denganku saja~”
“Huhuhu~ aku patah hati! Luhan sunbae~”
“Kasihan sekali dia. Ditolak oleh hoobae…HAHAHA”
“Beraninya dia mendekati Sehunku!”
Suara-suara itu terdengar sepanjang koridor. Luhan, Baekhyun, dan Minhyuk menulikan telinga mereka. Berpura-pura tak mendengar ucapan-ucapan itu.
Mereka mempercepat langkah mereka ke kantin. Wajah Luhan memerah menahan malu, rasanya dia ingin ditelan bumi saat ini juga.

Saat memasuki kantin, Luhan dipandangi oleh seluruh murid yang ada di sana.
“Wah, Luhan, aku tahu kau terkenal. Jumlah fansmu bertambah banyak dalam waktu tiga jam!” Seru Baekhyun.
“Diamlah!” Ucap Luhan kesal. Mereka segera memesan makanan kemudian berjalan ke meja yang ada di tengah-tengah kantin.

Luhan fokus menatap Sehun yang duduk di meja seberang kanan meja yang dipakai Luhan.
“Hey, kau tidak makan?” Tanya Baekhyun. Luhan tak menjawab, ia terlalu fokus memandangi wajah Oh Sehun. Baekhyun mengerucutkan bibirnya sebal.
“Ya!” Teriak Baekhyun sambil menyentuh bahu Luhan. Seketika Luhan terkejut.
“A…ada apa?” Tanya Luhan kaget.
“Kau tidak makan?” Tanya Baekhyun santai seolah-olah dia tidak mengejutkan Luhan barusan.
“Aku sudah kenyang.” Balas Luhan lalu kembali menoleh ke arah meja yang ditempati Sehun.
“Kenyang melihat Oh Sehun maksudmu?” Sindir Baekhyun. Luhan tak menghiraukannya. Ia memandangi sekeliling kantin, mencari sosok Oh Sehun.
“Ah~ dia sudah pergi..” Ucap Luhan dengan nada kecewa. Baekhyun mencibir Luhan. Sementara Minhyuk hanya mengendikkan bahunya.

~oOo~

“Aku pulang~” ucap Luhan saat memasuki rumahnya. Ia segera melepas sepatunya kemudian memakai sendal rumah. Ia segera berjalan ke kamarnya yang berada di lantai 2.
Luhan memasuki kamarnya, mengganti seragamnya dengan pakaian santai. Kaos putih oblong dan celana jeans selutut. Setelah itu ia berjalan keluar kamar menuju dapur yang terletak di lantai bawah.

.
.

“Luhan” panggil seorang wanita yang berumur kira-kira 38 tahun saat melihat Luhan melintas di depan ruang keluarga. Luhan menoleh kemudian tersenyum manis ke arah wanita tersebut.
“Mama” panggil Luhan lalu menghampiri wanita yang merupakan ibu kandung Luhan itu.
“Bagaimana sekolahmu hari ini?” Tanya Mama Luhan.
“Semuanya berjalan dengan baik” jawab Luhan sambil duduk di sofa yang tersedia di ruang keluarga.
“Baguslah.” Balas Mama Luhan. Mereka tiba-tiba terdiam, tak ada yang berbicara satupun. Luhan yang sibuk melihat-lihat ponselnya sementara Mama Luhan sibuk dengan pikirannya. Merasa tak nyaman dengan keadaan seperti itu, Mama Luhan menghela napas kemudian mulai membuka mulutnya berniat mengatakan sesuatu.
“Uhm, Luhan” panggil Mama Luhan sedikit ragu. Luhan yang mendengar namanya dipanggil segera mendongak.
“Ada apa, Ma?” Tanya Luhan.
“Untuk dua tahun kedepan, Mama dan Papa akan tinggal di China. Kau mau ikut kami atau tetap di sini?” Tanya Mama Luhan. Luhan membelalakkan matanya.

‘Ikut? Ke China? Selama dua tahun? Berarti…’ Luhan semakin membulatkan matanya ‘aku akan pindah sekolah? Tidak bertemu Sehun? OH, TIDAK!’ Jerit batin Luhan.

“Bagaimana, Lu? Kau mau ikut?” Tanya Mama Luhan.
“Mama, kenapa harus kembali ke China?” Tanya Luhan.
“Papa harus mengurus perusahaan di China, yaa, sekitar 2 atau 3 tahun dan Mama harus mendampingi Papa.” Jawab Mama Luhan.

Luhan berpikir, mencari alasan yang tepat agar dia tidak ikut ke China. Jujur saja, Luhan tak ingin berpisah dengan Sehun. Satu hari tak melihat Sehun itu sama saja dengan membunuh Luhan secara perlahan. Pokoknya Luhan tak mau pindah apalagi tak melihat Sehun.

“Mama, Luhan sekarang sudah kelas tiga. Ujian tinggal beberapa bulan lagi. Luhan ingin menjadi lulusan di sekolah Luhan sekarang.” Ucap Luhan pelan.
“Jadi, maksudmu kau tidak ingin ikut?” Tanya Mama Luhan.
“Ya, begitulah. Jika Luhan pindah sekolah, itu akan mempersulit Luhan. Sebab ujian kelulusan tidak akan lama lagi sementara Luhan harus membiasakan diri dengan sekolah baru Luhan. Itu akan sangat mempersulit Luhan. Dan Luhan juga masih ingin bersama teman-teman Luhan di sini” Jelas Luhan. Mama Luhan menghela napas kemudian tersenyum lembut.
“Baiklah, jika keinginanmu seperti itu. Tapi kau tidak boleh tinggal sendiri” ucap Mama Luhan.
“Eh, bukannya di rumah ada maid yang menemani Luhan?” Tanya Luhan bingung.
“Tinggal dengan maid itu tidak menjamin keselamatanmu, sayang.” Ucap Mama Luhan sambil tersenyum.
“Lalu?” Tanya Luhan.
“Kau akan tinggal di rumah teman Mama.” Ucap Mama Luhan.
“Si..siapa?” Tanya Luhan.
“Besok Mama akan mengantarmu ke rumahnya.” Ucap Mama Luhan.
“Memangnya kapan Mama akan ke China?” Tanya Luhan.
“Besok”
“Mwo?!” Kaget Luhan.
“Maaf baru memberitahumu sekarang. Sekarang kemasi barang-barangmu. Agar besok sepulang sekolah Mama tinggal mengantarmu ke sana” ucap Mama Luhan.

~oOo~

Karena jarak antara rumah Luhan dan Sekolah hanya berjarak 1 kilo meter, Luhan memutuskan untuk jalan kaki ke sekolah. Sekalian olahraga pagi gitu.
Sepanjang jalan Luhan tersenyum sambil menghirup udara pagi yang begitu segar. Ia benar-benar tak sabar ingin segera tiba ke sekolah, lebih tepatnya ia tak sabar ingin melihat wajah Oh Sehun.

Luhan segera berlari saat gerbang sekolah tinggal 10 meter lagi. Bukan, bukan, Luhan tidak terlambat tapi dia terlalu antusias untuk segera memasuki wilayah sekolah. Tempat satu-satunya ia bisa melihat Oh Sehun. Saat berlari, Luhan tak terlalu fokus pada jalanan, alhasil dia menabrak seorang siswa tepat di tengah gerbang sekolah. Luhan jatuh terduduk. Siswa yang ditabrak Luhan masih berdiri kokoh.

“Kau tak apa?” Tanya siswa itu dengan nada datar. Luhan mendongak. Luhan memiringkan kepalanya, sepertinya ia pernah melihat namja ini. Namja itu segera mengulurkan tangannya.
“Ah, aku baik-baik saja” ucap Luhan sambil menerima uluran tangan namja itu. Saat sudah berdiri, suara memekakkan telinga membuat Luhan menoleh ke arah suara tersebut. Suara klakson mobil rupanya. Kaca jendela bagian kemudi terbuka, seorang namja tampan menyembulkan kepalanya dari dalam mobil.
“Minggir!” Ucap namja itu datar yang terdengar seperti sebuah suruhan.
Luhan menarik tangannya yang masih bergenggaman dengan tangan namja yang ditabraknya tadi. Ia segera minggir ke kiri, membuka jalan agar mobil Sehun bisa lewat. Setelah mobil Sehun berlalu, Luhan memekik girang.
“Kyaa~ Sehun berbicara padaku!” Teriak Luhan sambil melompat dengan tangan yang terkepal di udara. Setelahnya ia segera berlari memasuki gedung sekolah dengan senyum cerah.

Namja yang ditabrak Luhan yang merupakan namja yang kemarin surat Luhan jatuh tepat di depannya kembali memandang Luhan dengan tatapan yang sulit diartikan kemudian menatap tangan kanannya yang tadi bersentuhan dengan tangan Luhan.

.
.

Luhan memasuki ruangan kelas dengan senyum bahagia. Baekhyun dan Minhyuk memandang Luhan dengan tatapan heran begitupula dengan murid yang lain.
“Kau kenapa?” Tanya Minhyuk yang duduk tepat di belakang Luhan. Luhan menoleh masih dengan senyum cerah.
“Hahahaha, kalian tahu?” Baekhyun dan Minhyuk menggeleng.
“Hohoho, tadi Sehun berbicara padaku! Kyaa” teriak Luhan.
“Mwo? Sehun berbicara?” Koor murid sekelas. Mereka mulai menggosip lagi tentang Sehun dan Luhan.
“Bagaimana bisa?” Tanya Minhyuk tak percaya. Luhan memamerkan senyum bangga.
“Tadi saat memasuki gerbang aku bertabrakan dengan seorang siswa. Nah, karena Sehun ingin lewat, dia berkata ‘Minggir!'” Ucap Luhan sambil mengikuti cara bicara Sehun.

Krik

Krik

Tak ada yang bersuara, semua murid terdiam dan cengo mendengar penuturan Luhan. Hal itu membuat Luhan bingung.
“Hey! Ada apa?” Tanya Luhan. Baekhyun yang tersadar langsung bertanya, “dia hanya mengatakan ‘minggir!’?” Luhan mengangguk.
“Hanya itu?” Tanya Baekhyun memastikan. Luhan yang mulai mengerti langsung berkata, “hey, itu suatu keberuntungan, asal kau tahu. Sehun itu orang yang sangat irit bicara. Jadi hanya mengatakan satu katapun itu sudah merupakan hal yang wah” jelas Luhan.
“Ah, iya juga sih” ucap Minhyuk. Semua murid mulai kembali bersuara.

.
.

Seperti biasa Luhan selalu memperhatikan Sehun. Mengikuti Sehun kemanapun, entah itu ke kantin, taman belakang sekolah, memperhatikan Sehun dari luar kelas Sehun.

~oOo~

Hari ini Luhan pulang cepat sebab ia harus ke rumah mengambil barang dan pindah ke rumah teman ibunya.
“Aku pulang~” Luhan membuka sepatunya lalu memasuki rumah.
“Kau sudah pulang rupanya. Ayo, ambil barang-barangmu. Mama akan mengantarmu, 1 jam lagi Mama akan ke bandara” ucap Mama Luhan. Luhan mengangguk kemudian berjalan menuju kamarnya.

Beberapa menit kemudian Luhan turun dari lantai dua, menghampiri Mamanya yang sedari tadi menunggunya di ruang keluarga.
“Kau sudah siap?” Tanya Mama Luhan. Luhan mengangguk. Sekarang Luhan mengenakan kemeja biru tua, celana jeans hitam, dan sneakers kesayangannya.
Mereka segera meninggalkan kediaman keluarga Luhan.

~oOo~

Luhan menatap rumah di hadapannya ini dengan tatapan takjub. Rumah yang sangat mewah menurut Luhan. Luhan yakin, penghuni rumah ini pasti penggila kerja.
“Ayo masuk” ajak Mama Luhan. Dengan menarik kopernya Luhan mengikuti langkah Mamanya.

Ting tong~ ting tong~

Mama Luhan menekan bel. Tak lama kemudian pintu terbuka.
“Wah, akhirnya kau datang juga Qiannie” ucap wanita yang seumuran dengan Mama Luhan sambil memeluk Mama Luhan.
“Ne, Yoona~ya.” Jawab Mama Luhan yang bernama asli Song Qian. Yoona yang mengalihkan pandangannya ke arah Luhan langsung memandang takjub ke arah Luhan. Sementara Luhan membungkuk hormat sambil menyapa, “annyeong haseyo” Yoona melepaskan pelukan dari Mama Luhan lalu berjalan ke arah Luhan kemudian menangkup wajah Luhan.
“Huaaahh~ anakmu manis sekali, Qiannie~” ucap Yoona sambil mencubit-cubit pipi Luhan. Luhan hanya tersenyum canggung.
“Hahaha, dia cantik, bukan? Padahal dia cowok…hihihi” Luhan menatap protes ke arah Mamanya.
“Ne, dia cantik sekali. Kawaii~” Yoona terlihat seperti gadis remaja yang fangirling.
“Nah, selamat datang di kediaman kami, Luhan.” Ucap Yoona setelah sikapnya kembali normal.
“Ah, Yoona. Aku akan ke bandara sekarang. Aku titip Luhan ya” ucap Mama Luhan setelah ia melihat jam yang menunjukkan pukul 14:35 KST.
“Ne, selama berada di rumah kami. Dia akan baik-baik saja” ucap Yoona tegas.
“Aku pergi, Luhan jangan nakal ya. Annyeong” Mama Luhan segera memasuki mobilnya yang kemudian melaju menuju bandara.

“Aku bukan anak kecil lagi!” Gumam Luhan.
“Ada apa, Luhan?” Tanya Yoona.
“Eh, ti..tidak…hehehe” balas Luhan. Yoona tersenyum senang.
“Kau manis sekali, Luhannie” ucap Yoona. “Ayo aku antar ke kamarmu” Luhan mengangguk lalu mengikuti langkah Yoona.

.
.

“Ini kamarmu” ucap Yoona sambil menunjuk kamar yang pintunya bercat putih. Di pintu terdapat gantungan persegi yang ada tulisan nama ‘Luhan’ di gantungan tersebut. Luhan mengangguk.
“Oh ya, kamar yang ada di samping kamarmu itu adalah milik anak saya, dia satu sekolah denganmu.” Ucap Yoona sambil menunjuk kamar yang ada di samping kamar Luhan.
“Benarkah?” Tanya Luhan.
“Ne, tapi dia masih kelas sepuluh” balas Yoona sambil membuka pintu kamar Luhan.
“Jaa, ini kunci kamarmu. Kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan memanggilku. Aku ke dapur dulu. Sebentar lagi sepertinya anakku akan segera pulang” ucap Yoona lalu berpamitan ke dapur.

Luhan memasuki kamarnya. Ia menutup pintu. Menyimpan kopernya ke samping ranjang kemudian melempar tubuhnya di kasur empuk. Matanya memandang langit-langit kamar barunya. Ia mengalihkan pandangan ke arah kanan. Ia segera bangkit, berjalan ke arah kanan, membuka tirai, lalu membuka pintu yang menghubungkan kamar ke teras.

Luhan bersandar di pembatas teras. Ia menatap takjub ke arah rumah yang ada di hadapannya -di samping kanan rumah ini. Teras kamar Luhan berhadapan dengan teras ‘tetangga baru’nya. Menoleh ke samping kiri, Luhan menemukan teras kamar anak Yoona.
“Dia cewek atau cowok ya?” Gumam Luhan. Luhan menghirup udara sejenak kemudian masuk ke dalam kamar. Memasukkan baju-bajunya ke dalam lemari setelah itu ia tertidur pulas di kasur empuk.

.
.

Tok tok tok~ tok tok tok~

Luhan mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia menggeliat di kasur empuk itu, lalu membuka matanya sepenuhnya. Ia mengerutkan keningnya saat melihat langit-langit kamarnya.

‘Kenapa berbeda?’ Batinnya.

Setelah terdiam beberapa saat Luhan kemudian sadar bahwa ia sekarang berada di rumah Yoona ahjumma.

Tok tok tok~

Ketukan pintu itu membuat Luhan langsung bangkit berdiri. Ia memakai sendal rumah yang terletak di samping kiri ranjang kemudian berjalan ke arah pintu. Luhan memegang handle pintu kemudian membukanya. Seorang namja tampan kini berdiri tegap di hadapan Luhan. Matanya yang tajam membuat Luhan sedikit tertegun. Namja itu nampak terkejut sesaat ketika melihat wajah Luhan namun dengan cepat ia kembali memasang wajah datar. Luhan menatap namja
itu bingung membuat namja itu membuka suara.
“Eomma menyuruhku memanggilmu untuk makan bersama. Kata eomma kamu belum makan.” Ucap namja itu datar. Luhan kemudian mengangguk.

Mereka berdua segera meninggalkan kamar Luhan kemudian berjalan ke arah dapur. Selama mereka jalan bersama, lebih tepatnya Luhan yang mengekor, tak ada percakapan apapun. Mereka sama-sama bungkam. Luhan melirik jam tangannya, jarum pendek menunjuk antara angka 4 dan 5 sementara jarum panjang menunjuk angka 6. Berarti sekarang jam setengah 5. Haah~ pantas saja Luhan merasa lapar sejak tadi. Sudah hampir 10 jam dia belum mengisi perutnya.

.
.

“Hai, Luhannie. Maaf menganggu tidurmu.” Sapa Yoona sekaligus merasa menyesal karena telah menyuruh anaknya membangunkan Luhan.
“Hehehe, gwaenchana ahjumma.” Ucap Luhan. Namja yang sedari tadi bersama Luhan kini telah duduk manis dan mulai menyendok nasi serta lauknya.
“Ayo, duduk.” Yoona mempersilahkan. Luhan segera duduk. Ia duduk berhadapan dengan anak Yoona ahjumma. Luhan mulai menyendok nasi dan lauknya.

Mereka mulai makan, tak ada yang berbicara. Mereka makan dengan damai. Luhan yang memang terbiasa makan dalam keadaan hening tak heran jika Yoona dan anaknya tak bicara saat makan.

.
.

Setelah makan, mereka duduk di ruang keluarga. Awalnya anak Yoona ingin ke kamar, tapi Yoona melarangnya.
“Uhm, Luhannie, ini anak saya. Namanya Kim Jong In.” Ucap Yoona sambil menunjuk anaknya, “ayo beri salam” suruh Yoona. Jongin segera berdiri kemudian, “annyeong haseyo, Kim Jong In imnida.” Lalu membungkuk sedikit kemudian kembali duduk.
Luhan berdiri membungkuk lalu berucap, “annyeong haseyo, Xi Lu Han imnida.” Luhan kembali duduk. Ia memandangi wajah Jongin dengan tatapan bingung.

‘Sepertinya aku pernah bertemu dengannya. Tapi di mana? Tatapan matanya juga tak asing lagi..’ Batin Luhan sambil terus memandangi Jongin.

“Luhan, Jongin berada di sekolah yang sama denganmu. Dia baru kelas sepuluh. Kalian bisa berangkat ke sekolah bersama. Oh ya, kalian mengobrollah, aku harus menyelesaikan pekerjaan di dapur.” Ucap Yoona lalu meninggalkan mereka berdua di ruang keluarga tersebut.

Mereka terdiam. Jongin yang sibuk memainkan ponselnya sementara Luhan mencoba mengingat-ngingat di mana dia bertemu dengan Jongin. Iya, Luhan tahu, pasti mereka bertemu di sekolah. Tapi tepatnya di mana? Di kantin kah? Di perpustakaan kah? Coret, Luhan jarang malah tak pernah ke perpustakaan. Di atap sekolah kah? Tidak, pasti! Luhan malas harus menaiki berpuluh-puluh tangga untuk mencapai atap. Lalu di manaaa~?

Di kelas? Banyak kelas, cin~. Di parkiran? Tidak mungkin, Luhan selalu jalan kaki jika ke sekolah. Di lapangan basket? Bisa jadi karena Luhan sering ke lapangan basket menemani Baekhyun yang melihat Chanyeol, sekalian lihat Sehun sebenarnya. Dasar modus -_-”

‘Di koridor?’ Luhan mengerutkan keningnya saat pertanyaan itu melintas di kepalanya. Seperti ada cuplikan-cuplikan kejadian yang melintas di kepala Luhan.
Karena lelah berpikir, Luhan akhirnya menyerah.

‘Lebih baik bertanya langsung ke orangnya’ pikir Luhan. Ia kemudian berdehem membuat Jongin mendongak memandang Luhan. Luhan salah tingkah kalau ditatapi seperti itu oleh Jongin.

“Uhm, Jo..Jongin-ssi.. Se..sepertinya kita pernah bertemu..” Ucap Luhan terbata. Jongin mengangguk mengiyakan. Luhan semakin salah tingkah karena Jongin menanggapi dengan sebuah anggukan.
“Uhmm… Di mana ya?” Tanya Luhan.
“Panggil aku Kai” ucap Jongin atau Kai saat membuka mulutnya, Luhan terkejut saat mendengarnya.

‘A…APA KATANYA?! KA…KAI?! KAI SI HOOBAE YANG TERKENAL KARENA JAGO DANCE ITU?!’ Batin Luhan terkejut. Matanya melebar dan mulutnya menganga.

“Pertama, kita bertemu di koridor saat suratmu jatuh tepat di depan kakiku. Kau benar-benar konyol saat itu. Kedua, kita bertemu di gerbang sekolah saat kau menabrakku. Cih, dasar ceroboh.” Ucap Kai lalu berdiri kemudian berjalan meninggalkan Luhan. Namun baru beberapa langkah, Kai berhenti. Tanpa menoleh Kai berucap, “perbaiki ekspresimu. Kau benar-benar terlihat konyol seperti itu. Pantas saja Sehun menolakmu.” Kemudian pergi.

Luhan semakin melebarkan matanya. Dengan kesal Luhan berdiri lalu memandang punggung Kai yang semakin menjauh.
“Dasar menyebalkan!” Gerutu Luhan.

“Awas saja kau! Aku akan mencakarkan wajahmu!” Ucap Luhan dengan tampang kesal.

~oOo~

Luhan duduk di kursi yang terdapat di teras kamarnya. Langit sudah gelap, bintang menghiasi langit bersama dengan bulan. Luhan memandang sekelilingnya. Ia baru saja selesai makan malam bersama Yoona dan Kai. Luhan menoleh ke samping kirinya. Ia terlihat kesal saat melihat Kai yang sedang mendengarkan musik melalui earphone dengan matanya terpejam, Kai duduk di kursi yang ada di teras kamarnya. Luhan memeletkan lidah ke arah Kai kemudian mencibir.

Saat kembali menoleh ke depan, pintu ruangan tetangga di depannya terbuka, dan muncullah seorang pria tampan. Luhan menyipitkan matanya untuk mempertajam penglihatannya. Ia sepertinya mengenal pria itu. Luhan terus memperhatikan gerak-gerik pria itu. Pria itu melakukan hal yang sama seperti Kai, duduk di kursi, mendengarkan musik melalui earphone dan memejamkan matanya.

Ugh, wajahnya tak asing lagi. Seperti…

“Kyaaa~ Oh Sehun~” pekik Luhan.

~oOo~

Luhan tersenyum sepanjang jalan. Senyum manisnya tak pudar sejak semalam. Semalam dia terus memandangi Sehun sampai Sehun memasuki rumahnya. Luhan benar-benar tak menyangka akan bertetangga dengan Sehun.
“Berhenti tersenyum!” Tegur Kai. Luhan memelet ke arah Kai kemudian kembali tersenyum.
“Kau terlihat seperti orang gila. Jika kau terus tersenyum, enyahlah dariku.” Ucap Kai datar.
“Ya! Kau benar-benar perusak mood!” Pekik Luhan sambil memukul bahu Kai. Kai memegang bahunya yang terkena pukulan Luhan.
“Sakit, bodoh!” Teriak Kai.
“Hey! Aku tidak bodoh! Kau yang bodoh! Dasar perusak mood!” Luhan berkacak pinggang di depan Kai. Kai mendecih.
“Mengaku saja, mana ada orang pintar tidak masuk 100 besar.” Cibir Kai.
“Ya, Ya! Kau tahu da..dari mana?” Tanya Luhan berusaha menahan malu.
“Itu sudah tersebar, bodoh!” Balas Kai lalu berjalan menjauh dari Luhan.
“Dasar menyebalkan! Perusak mood!” Teriak Luhan lalu berlari menyusul Kai soalnya dia belum mengenal daerah sini.

Rumah Kai dan sekolah berjarak kurang lebih 1 km. Jadi mereka jalan kaki ke sekolah.

.
.

Luhan dan Kai memasuki lingkungan sekolah. Mereka berjalan beriringan. Tak ada yang bersuara di antara mereka. Para murid menatap mereka dengan tatapan terkejut.

Beberapa hari yang lalu Luhan menyatakan perasaannya ke Sehun. Dan sekarang Luhan bersama Kai! Woaah~, Daebak!

Saat berjalan di koridor, saat Kai akan memasuki kelasnya, dengan sengaja Luhan menjitak kepala Kai kemudian berlari dan sesekali menoleh untuk menertawai Kai. Sementara Kai memegangi kepalanya sambil memasang tampang sangar ke arah Luhan.

“Hahaha” Luhan terus berlari sambil menertawai Kai. Karena tak memperhatikan jalan, Luhan menabrak punggung seseorang.

Bugh!

“Akh~” erang Luhan sambil memegang jidatnya yang beberapa detik lalu mendarat di punggung seseorang. Orang itu membalikkan badannya. Semua murid di koridor memperhatikan mereka berdua dan keadaan hening seketika. Luhan mengusap dahinya sambil mendongak-

“Wo…woaaah” kaget Luhan dan sedikit mundur ke belakang saking kagetnya.
“Kau lagi, cih” gumam orang itu yang bernama Sehun.
“Berhenti mengangguku, bodoh!” Ucap Sehun datar sementara Luhan mematung di tempatnya sambil memandangi Sehun.

‘Huaaahh~ Sehun tampan sekaliii~’ batin Luhan.

“Dan kau harus tahu! Aku. Tidak. Menyukai. Gay.” Ucap Sehun penuh penekanan.
Luhan membulatkan matanya.

‘APA?!’ Batin Luhan.

TBC

Haloo~
Saya kembali dengan ff HunHanKai…kekeke~
Ini ff HunHan kedua/HunKai pertama saya… Hohoho
Maaf jika tidak memuaskan dan banyak typo bertebaran. Saya malas ngedit #plaak
Ini memang remake dari drama/dorama playful Kiss. Tapi saya usahain akan berbeda dari drama/dorama itu.
Oh ya, ini TBC atau END tergantung dari readers. Kalau reviewnya banyak, ini akan lanjut. Jika, tidak, ya, pai pai~ xD
Jadi, kalau kalian mau lanjut, review dong!

See you in next chapter or new ff?😄

Dibuat 28-02-2014 jam sekolah xD

Selesai 07-03-2014 15:13 WITA