Tag

, , ,

Title : With You | Author : Reza C Warni | Cast : Jung Soojung, Kim Myungsoo, Kim Jongin | Other Cast : Kang Seulgi | Genre : Romance | Rated : T to M (maybe) | Duration : Chaptered

.

.

“Bertemu denganmu adalah bencana bagiku, menghabiskan waktu bersamamu adalah siksaan bagiku, dan..jatuh cinta padamu adalah karma untukku” -Kim Myungsoo

“Bertemu denganmu adalah pilihan bagiku, menghabiskan waktu bersamamu adalah proses bagiku, dan…jatuh cinta padamu adalah hasil untukku” -Jung Soojung

.

.

Poster by Jungleelovely

.

.

Soojung menaruh nampannya di atas meja. Dia duduk di depan Jongin yang sedang memakan makan siangnya. Dengan emosi dia mengetuk-ngetukkan garpunya ke piring. Jongin yang merasa terganggu segera mendongak.
“Kau kenapa, Soojung?” tanyanya.
“Aku kesal dengan si botak manusia purba” balasnya kemudian memasukkan sesendok makanan ke mulutnya.
“Dia kenapa? memberi tugas lagi?”
“Ya, begitulah” Soojung berucap dengan mulut yang masih penuh makanan. Jongin menggeleng melihat cara makan gadis itu. Tangannya meraih tisu yang ada di atas meja kemudian mencondongkan tubuhnya ke Soojung lalu menghapus sisa makanan di sekitar bibir gadis itu.
“Makan dengan tenang. Kau sangat bringas, kau tahu?” Soojung mengendikkan bahunya lalu kembali memasukkan sesendok makanan ke mulutnya.
“Hei, Akhir pekan ini Sehun mengajakku ke pesta temannya. Temani aku ya?” ajak Jongin.

Soojung mengunyah makanan di mulutnya sambil berpikir. Setelah menelan makanannya, dia segera meraih gelas minuman lalu menandaskannya.
“Maaf, Jongin. Aku tak bisa. Aku ada janji bersama ayah dan ibu untuk makan malam di luar.” Tadinya Soojung ingin mengiyakan tapi dia teringat kembali dengan janjinya.
“Makan malam di luar? Tumben.” kata lelaki berkulit tan itu sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi.
“ya, aku juga heran sih. Kau bisa mengajak gadis lain ke pesta. Lihatlah, banyak gadis yang mendaftar untukmu” ucap Soojung seraya melihat ke sekeliling kafetaria. Jelas sekali banyak gadis yang melirik Jongin. Dia lelaki yang sangat populer di kampus. Jadi, tidak heran jika banyak gadis yang ingin dengannya.
“Aku akan memikirkan itu.” Jongin mengendikkan bahunya.

-o-

Soojung mematut dirinya di depan cermin, melihat penampilannya. Mengenakan mini dress berwarna putih selutut yang tak memiliki lengan, rambutnya yang panjang diuraikan ke samping kanan bahunya, bibir tipisnya dipolesi lipstick berwarna pink kemerahan, bedak yang ada di wajahnya tak begitu menor. Soojung meraih blazzer putihnya lalu menyampirkannya di bahu, dia memakai high heels, dan terakhir dia memasukkan ponsel serta beberapa peralatan make-up ke dalam dompet putih yang di pegangnya.

Soojung keluar dari kamarnya. berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang sudah menunggunya di ruang keluarga sejak beberapa menit lalu.
“Kau sudah selesai? ayo pergi” Ucap ayahnya lalu berjalan duluan. Ibu Soojung tersenyum lalu meraih tangan Soojung-menariknya untuk keluar bersama.

-o-

Soojung melirik jam tangannya beberapa kali lalu menatap kedua orangtuanya.
“Ayah, ibu, kalian belum pesan makanan?” tanya gadis Jung itu. Ayahnya melirik ke pintu masuk sementara ibunya memegang tangan Soojung di atas meja.
“sebentar lagi, nak. tunggu teman ayahmu.” ucap ibunya. Soojung mengerutkan alisnya.
“Jadi, kita akan makan dengan rekan bisnis ayah? Kenapa tidak bilang, bu?” tanyanya sedikit kesal.
“Maaf, nak. Jika ibu beritahu, kau pasti tak ingin ikut.” ucap wanita yang duduk tepat di samping Soojung.
“Tap-”
“Selamat malam, maaf kami terlambat. Tadi jalanan agak macet” terdengar suara pria yang mungkin seumuran dengan ayah Soojung.

Ayah, Ibu, serta Soojung yang tadi akan protes berdiri dari duduknya. Mereka membungkuk sejenak ke tamu yang datang. Setelah mendongakkan kepalanya, Soojung dapat melihat ada empat orang yang kini berdiri di hadapannya. Seorang pria paruh baya yang Soojung yakini sebagai kepala keluarga, seorang wanita paruh baya, seorang lelaki yang seperti agak tua beberapa tahun dari Soojung, dan seorang lelaki lagi yang sepertinya seumuran dengan Soojung.

“Silahkan duduk, tuan Kim.” ucap Ayah Soojung.
si pria yang dipanggil tuan Kim segera duduk begitupula dan yang lainnya. lelaki yang lebih tua dari Soojung duduk di hadapan Soojung, lelaki satunya duduk tepat di samping lelaki yang lebih tua, ayah dan ibu mereka duduk tepat di samping lelaki itu.

“Ah, kenalkan, dia anakku. Jung Soojung” ucap ayah Soojung lagi sambil menunujuk Soojung. Soojung tersenyum tipis lalu menundukkan kepalanya sebagai tanda hormat.
“Jung Soojung, nama yang bagus.” ucap tuan Kim sambil memandang Soojung lalu berkata, “yang di ujung anak pertamaku, namanya Kim Myungsoo dan di sampingnya anak kedua, namanya Kim Moonsoo”
lelaki yang bernama Myungsoo menundukkan kepalanya sebentar, sementara Moonsoo tersenyum lalu menundukkan kepalanya.

Ketika para orang tua mulai mengobrol tentang bisnis, Moonsoo mulai mengajak Soojung mengobrol.
“Kau Jung Soojung yang sering bersama Kim Jongin kan?” tanya Moonsoo. Soojung mengangguk.
“Ya, apa kita sekampus?” tanya Soojung. Moonsoo mengangguk.
“Aku salah satu teman Jongin” ungkapnya.
“Benarkah? Tapi aku tak pernah melihatmu bersamanya” ucap Soojung agak ragu. Moonsoo tertawa pelan.
“Tentu saja. Aku dan Jongin hanya bertemu di lapangan basket.” Soojung mengangguk.

Obrolan mereka mengalir begitu saja. Kadang Moonsoo yang tertawa, terkadang juga Soojun yang tertawa. Satu-satunya yang diam di ruangan itu hanyalah Myungsoo. entah apa yang dipikirkan lelaki itu hingga tak mau ikut mengobrol bersama Soojung dan Moonsoo. Ah, mungkin karena dia tak tahu apapun tentang Jongin, Club basket, si botak manusia purba, dan topik apapun yang Soojung dan Moonsoo ceritakan. Semua terlihat sibuk dengan obrolannya(kecuali Myungsoo tentu saja) hingga Moonsoo menanyakan sesuatu yang membuat semua menoleh ke arah Soojung.

“Apa kau dan Jongin berpacaran?” Soojung terlihat menahan tawanya. Tangannya dia gunakan untuk menutup mulutnya.
“tentu saja tidak. Kami hanya bersahabat.” ucap Soojung sambil tertawa kecil.
“Benarkah? Kalian terlihat sangat dekat” kata Moonsoo sambil mengendikkan bahunya.
“Mereka hanya berteman. Jongin adalah teman Soojung sejak sekolah dasar. Jongin juga tetangga kami. Jadi wajar saja jika mereka terlihat dekat seperti yang kau lihat.” Jelas ibu Soojung. Soojung hanya mengangguk mengiyakan.

Ruangan yang tadi terlihat agak canggung kini kembali dipenuhi obrolan kecil setelah pesanan mereka telah datang.

Makan malam telah selesai. Tuan Kim berdehem sejenak lalu memulai pembicaraan serius.
“Jadi begini, kami akan mengumumkan sesuatu.” ucap Tuan Kim sambil melirik ayah Soojung. Ayah Soojung mengangguk. Soojung dan yang lainnya menatap Tuan Kim, menunggu pria paruh baya itu melanjutkan omongannya.
“Aku dan Tuan Jung berniat untuk menjodohkan Myungsoo dan Soojung” ucap Tuan Kim sambil menatap Myungsoo dan Soojung bergantian.
“Apa?!” kata itu keluar dari mulut Soojung dan Myungsoo bersamaan. Mereka berdua saling menatap lalu kembali menatap Tuan Kim.
“Paman tidak bercanda ‘kan?” tanya Soojung. Tuan Kim menggeleng. Soojung lalu menatap ayahnya.
“Apa ini benar ayah?” tanya Soojung dengan ekspresi tak percaya. Ayahnya mengangguk.
“Ini bukan april mop, Jadi tolong jangan membuat lelucon yang tidak lucu sama sekali” Soojung kembali berucap.
“Ayah, aku tak ingin dijodohkan!” terdengar suara Myungsoo. dan jujur saja ini kali pertama Soojung mendengar suara pria itu setelah hampir dua jam duduk di ruangan yang sama.
“Kami tak menerima penolakan. Pernikahan dilaksanakan akhir tahun ini” ucap Tuan Kim lagi.
“Ayah saja yang menikah!” seru Myungsoo lalu bangkit dari duduknya, berniat pergi dari sini.
“Kim Myungsoo! tetap duduk di tempatmu!” bentak Tuan Kim.

Suasana berubah menegangkan. Soojung bahkan Myungsoo hanya duduk sambil mengumpat dengan suara pelan. Moonsoo yang tadinya terlihat bersemangat kini malah hanya diam menatap piring kosongnya. Kedua orang tua mereka kembali mengobrol mengenai perjodohan mereka.

-o-

“Kalian tak memberitahuku soal ini! Aku tak mau dijodohkan, ayah! ini bukan seperti zaman kalian yang masih ada perjodohan! ini sudah modern, Ayah!” Soojung berteriak penuh emosi saat mereka sudah memasuki rumah.
“Seberapa keraspun kau menolak, kau tetap dijodohkan.” ayahnya berkata dengan pelan namun tegas. pria paruh baya itu segera meninggalkan Soojung dan ibunya di ruang keluarga.

“Ibu, kumohon, bujuk ayah untuk membatalkan perjodohan bodoh ini.” pinta Soojung. Air mata telah menggenang di pelupuk matanya.
“maaf, Soojungie. Ibu tak bisa berbuat banyak. Kau tahu kan ayahmu begitu keras kepala? Kita tak bisa menghentikan keinginannya.” jelas ibunya sambil mengelus rambut panjang Soojung.
“tidurlah, ini sudah larut” lanjut sang ibu. Soojung tak berkata apapun, dia lari begitu saja menuju kamarnya.

-o-

Soojung menaruh begitu saja tasnya di atas meja. Matanya terlihat bengkak, ya sepertinya dia menangis semalam. Jongin yang duduk di samping gadis itu menatap Soojung dengan tatapan khawatir.
“Kau tak apa?” tanyanya. terdengar jelas nada khawatir dari suaranya.
“Ya, aku baik-baik saja.” Soojung berucap pelan.
“Tapi wajahmu menunjukkan kau tak baik-baik saja. Jangan membohongiku Soojung, aku mengenalmu dengan baik.” Soojung menyeringai mendengar ucapan Jongin.
“Jangan bertanya, Jongin.” gumamnya.
“Beritahu aku disaat moodmu sudah baik, ok?” Soojung hanya mengangguk.

Kim Songsaengnim tiba-tiba saja dan memulai kelas biologi. Soojung tak terlalu fokus mendengar penjelasannya, pikirannya masih dipenuhi tentang ‘perjodohan’.

Kelas telah berakhir dan kini mereka sedang berada di kafetaria.
“Oh ya, Jongin. Bagaimana dengan acara teman Sehun?” Soojung memulai percakapan.
“Seru. Seharusnya kau hadir!” seru Jongin dengan wajah senang.
“Kau tahu aku tak bisa. Siapa yang kau ajak?” tanya Soojung lagi.
“Seulgi. Kau kenal?” Jongin balas bertanya.
“tentu saja. Dia salah satu mahasiswi terkenal di kampus ini.” balas Soojung.
“Kau tahu? Dia begitu cantik, bisa diajak bercanda, dan enak diajak mengobrol. Kami sama-sama menyukai dance!” seru Jongin dengan menggebu-gebu. Soojung yang sudah memangnya tak mood, semakin tak mood saat mendengar ucapan Jongin. Hatinya terasa dicubit berpuluh-puluh kali.

Soojung mengangguk dan hanya mendengarkan ocehan Jongin tentang Seulgi sebagai angin lalu. Masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Hatinya pun semakin terasa perih setiap nama ‘Seulgi’ keluar dari mulut Jongin.

-to be continue-

Maaf banyak typo, tidak sempat edit hehe
Terima kasih sudah baca ヾ(@^▽^@)ノ