Tag

, , , ,

Title : With You | Author : Reza C Warni | Cast : Jung Soojung, Kim Myungsoo, Kim Jongin | Other Cast : Kang Seulgi | Genre : Romance | Rated : T to M (maybe) | Duration : Chaptered

.

.

“Bertemu denganmu adalah bencana bagiku, menghabiskan waktu bersamamu adalah siksaan bagiku, dan..jatuh cinta padamu adalah karma untukku” -Kim Myungsoo

“Bertemu denganmu adalah pilihan bagiku, menghabiskan waktu bersamamu adalah proses bagiku, dan…jatuh cinta padamu adalah hasil untukku” -Jung Soojung

.

.

Poster by Jungleelovely

.

.

Soojung mengetuk-ngetukkan sendoknya dengan kesal ke piringnya. Mata tajamnya menatap ke arah meja sebelah, di mana Jongin dan Seulgi sedang mengobrol. Mereka terlihat sangat asyik hingga membuat Soojung rasanya ingin melempar mereka ke luar kafetaria.
“Hei, Soojung. Kau kenapa?” teman dekat bertanya. Dia Choi Sulli, sahabat Soojung.
“aku baik-baik saja” ucap Soojung penuh penekanan pada tiap kata yang keluar dari bibir manisnya.
“Benarkah? Kau terlihat seperti sedang terbakar api cemburu.” gumam Sulli. Soojung menoleh ke Sulli, menatap gadis itu dengan tatapan tajam.
“Jangan bercanda HAHA aku tak mungkin cemburu HAHA” Soojung tertawa paksa. Dia berdiri dari duduknya lalu berjalan meninggalkan Sulli. Dia terus mengucapkan kalimat itu sepanjang jalan.

Sulli menggeleng prihatin melihat Soojung. Sampai kapan gadis itu dan Jongin akan bertengkar?

Semuanya bermula lima hari yang lalu, Soojung dengan sengaja menumpahkan minumannya ke baju Seulgi. Entah apa yang sedang dipikirkan Soojung hingga melakukan hal itu. Jongin menyuruh Soojung untuk minta maaf namun Soojung tak mau. Dia mengelak bahwa itu terjadi secara tak sengaja tapi Jongin tak mempercayainya. Mereka berdebat cukup lama hingga akhirnya Jongin menarik tangan Seulgi menjauhi kantin. Dan sejak saat itu sampai detik ini Soojung dan Jongin tak pernah bertegur sapa lagi. Hanya karena Seulgi.

-o-

Soojung memutar tubuhnya bosan di atas kasur. Dia merasa hampa. Tak ada Jongin yang memasuki kamarnya sembarangan, tak ada Jongin yang mengganggunya, tak ada Jongin yang mendengarkan curhatan, dan tak ada Jongin yang selalu ada di sampingnya. Soojung mengerang frustasi.

“Aku harus bicara dengannya besok” gumam Soojung. Dia tak tahan seperti ini. Benar-benar tak tahan.

Beberapa hari ini ibunya selalu menanyakan hal yang sama-apakah Soojung dan Jongin bertengkar?. Dan Soojung bosan mendengar pertanyaan itu, jadi besok dia akan membicarakan hal ini dengan Jongin.

-o-

Sepertinya Soojung memiliki gengsi yang tinggi. Dia enggan mengajak Jongin ngobrol duluan, menatapnya pun enggan. Gadis itu berdiri di depan pintu masuk dengan gelisah, Sulli yang berdiri di hadapannya menatap bingung.
“Kau kenapa?” tepat setelah Sulli bertanya Jongin lewat di samping mereka.
“Aku hanya heran, kita sahabatan tapi hanya karena masalah kecil dia seolah-olah tak mengenalku. Baiklah aku akan melakukan hal yang sama.” sindir Soojung dengan suara yang dibesar-besarkan. Beberapa siswa menatap ke arahnya dan Sulli. Sulli menggeleng memberitahu bahwa dia tak tahu apapun. Belum sempat Sulli bertanya, seorang dosen telah berjalan masuk ke ruangan membuat Sulli dan Soojung ikutan masuk.

Setelah dua jam terlewatkan, kelas usai dan disaat yang bersamaan Jongin memasuki ruangan Soojung lalu menarik tangan Soojung.
“Kita perlu bicara.” Soojung menyeringai saat mendengar ajakan Jongin. Ini yang dia tunggu-tunggu.

Mereka duduk di meja yang biasa mereka tempati di kafetaria. Jongin menatap Soojung sementara Soojung menatap ke arah lain.
“Beberapa hari ini aku sibuk mengerjakan tugas jadi tak ada waktu untuk main ke rumahmu.” Soojung hanya mengangguk mendengarnya.
“Jangan marah padaku, aku hanya melakukan hal benar. Kau memang harus minta maaf pada Seulgi karena saat itu aku tahu kau sengaja menumpahkan minuman ke bajunya.” Soojung kembali mengangguk. Jongin mengerang frustasi mendapati respon Soojung yang seperti ini.

“Kau tahu? Hari itu aku berniat untuk menyatakan perasaanku padamu. Tapi kau malah membuatku emosi.” Ungkap Jongin. Soojung mengalihkan pandangannya ke Jongin.
“Benarkah?” Jongin tersenyum. Dia menopang dagunya di atas meja.
“Ya, tentu saja.” ucapnya. Soojung menggigit bibir bawahnya untuk menhana senyum.
“Jika sekarang kita baikan. Apa kau masih akan mengungkapkan perasaanmu?” tanya Soojung. Sebenarnya dia sedikit malu untuk menanyakan hal itu tapi sisi lain darinya sangat penasaran.
“Mungkin saja iya” balas Jongin. Soojung menghela napas panjang lalu menghembuskannya.
“Aku sudah meminta maaf pada Seulgi tadi pagi.” aku Soojung. Jongin mengacak rambut Soojung dengan tangan kanannya.
“Baguslah. Itu Jung Soojung yang aku kenal.” Jongin berdiri dari duduk lalu berjalan meninggalkan kafetaria. Soojung mengekorinya.
“Ya! Kim Jongin! Hanya itu?” tanya Soojung kesal. Jongin tertawa pelan mendengarnya.

-o-

Jongin dan Soojung telah berbaikan. Ini sudah hari ketiga namun lelaki satu itu belum juga mengungkapkan perasaannya. Membuat Soojung frustasi. Ya, Dia sangat ingin menjalin hubungan dengan Jongin. Bukan sebagai teman, tapi.. kalian tahu kan maksud Soojung?

Soojung berguling-guling di kasurnya. Jongin tak datang ke rumahnya. Lelaki itu bahkan tak menelponnya. Soojung berdecak kesal. Meraih ponselnya lalu membuka salah satu akun SNS-nya.

‘Kim Jongin
Aku menyukai kedua-duanya.
8 menit yang lalu. publik
like. comment. lainnya’

Soojung meneguk liurnya dengan susah payah saat membaca status Jongin. Perasaannya menjadi campur aduk. Entah kenapa, Soojung yakin status Jongin itu untuk dirinya dan Seulgi. Soojung memilih menekan tombol comment lalu mulai mengetik.

‘Kau pilih dia saja. Dia pasti membuatmu nyaman. Dan dia juga selalu ada di sampingmu akhir-akhir ini kan?’

Soojung menghela nafas panjang. Dia tidak sok bijak. Dia hanya berusaha berpikiran dewasa. Dia tak mau mengorbankan kebahagiaan sahabatnya.

Beberapa menit menunggu, Jongin tetap tak balas. Akhirnya Soojung memilih untuk mengirim pesan teks ke lelaki satu itu.

‘Hei, Jongin. Kau pilih dia saja. Ini salahku karena membiarkanmu terus bersamanya selama beberapa hari. Dia pasti telah membuatmu nyaman. Jika kau benar-benar suka padaku, kau tak mungkin menyukainya. Pilih dia, dia yang selalu berada di sampingmu akhir-akhir ini.’

Setelah mengirim pesan itu Soojung segera tidur. Bilang saja dia bodoh, menyuruh lelaki yang disukainya untuk memilih gadis lain.

-o-

Soojung mengenakan dress hitam di atas lutut, dress itu tak memiliki lengan, rambutnya dia uraikan. Wajahnya dipolesi dengan bedak tipis. High heels warna putih menghiasi kakinya. Dia memegang dompetnya lalu kado yang sudah dia siapkan.

Soojung keluar dari rumahnya dan menemukan Jongin sudah siap di depan gerbang rumahnya dengan mobil Porsche hitam kesayangan lelaki itu. Jongin membukakan pintu untuk Soojung dan Soojung segera masuk ke dalam.

“Kau cantik, Soojung.” ungkap Jongin. Matanya sibuk melihat jalanan. Mereka sudah meninggalkan rumah Soojung sepuluh menit yang lalu.
“terima kasih. Kau juga tampan dengan tuxedo putih juga jas hitammu itu.” balas Soojung.

Gadis itu sebenarnya masih malu dengan insiden minggu lalu. Insiden ketika Soojung menyalahartikan status Jongin. Selama seminggu penuh Jongin terus menertawakannya. Status Jongin itu tentang makanan mana yang harus dia makan sementara lelaki itu menyukai keduanya.

-o-

Pesta ulang tahun Seulgi telah di mulai sejak lima belas menit yang lalu. Kini waktunya untuk potong kue. Soojung berdiri di tengah kerumunangan sambil memandang Seulgi yang ada di atas panggung. Seulgi terlihat cantik malam ini dan Soojung mengakui hal itu. Sebelum Seulgi benar-benar memotong kuenya, Jongin naik ke atas panggung. Membuat seluruh tamu termasuk Soojung terkejut.

Jongin meraih mic yang ada di MC. Dia menatap Seulgi yang juga menatapnya. Jongin kemudian menyapu pandangan ke para tamu lalu lelaki itu berlutut. Mengeluarkan bunga yang sedari tadi ada di punggungnya. Mengarahkan bunga itu ke Seulgi.

“Kang Seulgi, aku mulai tertarik padamu sejak pertama kali bertemu. Aku yakin kau adalah belahan jiwaku. Aku tak bisa mengungkapkan kata-kata romantis. Aku hanya ingin kau menjadi kekasihku, maukah?” Jongin menatap Seulgi penuh harap.

Soojung yang menyaksikan hal itu mundur beberapa langkah ke belakang. Tangan kanannya menutup mulutnya yang sedikit menganga karena terkejut. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Dan pada saat Seulgi berkata iya lalu Jongin memeluknya, Soojung segera berbalik dan lari dari situ. Air matanya menetes dengan deras.

-o-

“Myungsoo, itu dia!” Woohyun, salah satu sahabat Myungsoo, menunjuk seorang gadis yang sedang menengak minuman keras yang di pegangnya. Terlihat satu botol telah habis diminumnya, sementara satu botol lainnya tinggal setengah.

Myungsoo mendekati gadis itu. Menggoyangkan bahunya hingga gadis itu menatap Myungsoo dengan tatapan sayu.
“Cih, aku tak salah menolak dijodohkan denganmu. Ternyata kau gadis seperti ini!” teriak Myungsoo dalam kebisingan yang ada. dentuman musik yang begitu keras membuat siapa saja mau tak mau harus berteriak jika ingin mengobrol.

Jung Soojung–gadis yang sedang mabuk itu cegukan beberapa kali. Dia terlihat sudah sangat mabuk. Gadis itu berusaha berdiri dari duduknya, tubuhnya agak linglung hingga membuat gadis itu memeluk Myungsoo dengan sangat erat. Myungsoo mendorong gadis itu.
“Hei, lepaskan!” Dia berusaha melepas pelukan Soojung namun gadis itu malah semakin erat memeluknya.
“Lepaskan!” bentak Myungsoo. Soojung tak bereaksi apapun. Gumaman tak jelas terdengar dari mulutnya.
“Dia sepertinya sudah tak sadar, Myung.” ucap Woohyun di telinga Myungsoo. Myungsoo mendengus kesal.
“Lebih baik kau antar dia pulang.” lanjut Woohyun.
“Aku tak tahu rumahnya.” balas Myungsoo.
“Yasudah, ke apartemenmu saja.” usul Woohyun.
“Aku tak mau ke apartemenmu saja, hyung.”
“Hoh, aku tak mau diputuskan Chorong. kau tahu kan dia sering ke apartemenku.” Jelas Woohyun.
“Yasudah, biarkan saja dia di sini.” ucap Myungsoo masih berusaha melepaskan pelukan Soojung.
“Dia seorang gadis. Kau tak boleh begitu, Myung.” Myungsoo berteriak frustasi lalu menggendong Soojung ala bridal style.
“Kau bisa bayarkan minumannya kan? Nanti besok kusuruh dia ganti.” pesan Myungsoo ke Woohyun. Woohyun mengacungkan jempolnya.

Myungsoo membawa Soojung keluar dari bar tersebut. Membaringkannya di kursi penumpang lalu menjalankan mobil menuju apartemen miliknya.

-o-

Myungsoo menggendong Soojung memasuki apartemen. Tepat saat Myungsoo akan membaringkan Soojung di sofa, gadis itu muntah dan muntahannya itu mengenai jas Myungsoo.
“Ya! gadis sialan!” teriak Myungsoo kesal. Dia lalu membawa Soojung ke kamar mandi. Mendudukkan gadis itu di depan kloset, membiarkannya memuntahkan seluruh isi perutnya.

Myungsoo melepas jas serta kemejanya yang terkena muntahan Soojung. Dia melihat dadanya dengan tatapan jijik. Wajahnya terlihat ingin muntahan ketika mendengar suara Soojung yang sedang mengeluarkan isi perutnya. Myungsoo membuka tirai shower lalu masuk ke dalamnya. Membersihkan diri dari muntahan Soojung.

Myungsoo berpakaian santai–baju kaos hitam dan celana training hitam. Sejak beberapa menit yang lalu Soojung telah berhenti muntah. Gadis itu kini tidur di depan kloset. Myungsoo yang tak tega melihatnya menggendong Soojung lalu membaringkannya di atas sofa. Dia mengambil selimut di kamar kemudian menutupi tubuh Soojung dengan selimut tersebut.

“Kau harus membayar semua ini.” gumam Myungsoo. Matanya memandangi wajah tidur Soojung yang terlihat damai. ketika lelaki itu akan bangkit dari duduknya, Soojung menarik tangannya lalu memeluknya. Myungsoo terkejut. Bukan karena Soojung memeluk tangannya, tapi karena tangannya mengenai dada Soojung. Myungsoo menelan ludah susah payah.
“Hei, lepaskan aku.” Dia berbicara dengan suara yang agak serak. Nafasnya mulai tak beraturan. pikiran-pikiran aneh berseliweran di kepalanya. Myungsoo menggelengkan kepalanya. Tangannya yang lain berusaha melepaskan tangannya dari pelukan Soojung.

Bukannya melepas, Soojung malah terduduk di sofa lalu memeluk tubuh Myungsoo dengan erat. Suara tangisannya tiba-tiba pecah.
“He-hei, kau kenapa, Soojung-ssi?” Myungsoo bertanya dengan bingung.
“Huaah Kim Jongin sialan huaah” Soojung terus menangis sambil menyebut nama ‘Kim Jongin’. Myungsoo yang pada dasarnya tak suka mendengar tangisan seorang gadis, mengangkat tangannya lalu menepuk-nepuk bahu Soojung dengan ragu.

-o-

Sinar matahari masuk melalui jendela yang tak tertutupi gorden. Sinarnya tepat mengenai mata Soojung. Soojung mengeratkan tutupan matanya namun sedetik kemudian dia membukanya. Mata menyipit, setelah terbiasa dengan sinar matahari Soojung benar-benar membuka matanya. Gadis itu berdiri dari sofa, mengambil dompetnya yang ada di atas meja lalu berjalan keluar dari apartemen itu.

Kesadaran Soojung belum penuh, masih sekitar 65%. Dia memasuki lift menekan tombol satu. Soojung merogoh dompetnya lalu mengeluarkan ponselnya. Dia menekan tombol 3, di mana itu adalah panggilan cepat untuk Sulli.

“Halo”
“Halo Ssul. Bisakah kau menjemputku?” pintu lift terbuka. Soojung segera ke luar dari lift. Seluruh mata yang ada di lobby tertuju padanya. Beberapa dari mereka tertawa melihat penampilan Soojung. Rambut gadis itu terlihat berantakan, maskara berceceran di pipinya begitupula dengan lipstiknya, sandal rumah yang dipakainya semakin menambah penampilan buruknya.
“Kau di mana?”
“Aku..” Soojung melihat sekitar. Dia keluar dari gedung itu lalu mendongak ke atas, “di apartemen Gwandong”
“baiklah. aku akan segera ke situ.”

Soojung menunggu kedatangan Sulli sambil bersandar di dinding gedung. Dia tak perduli dengan orang-orang yang menertawainya. Tentu saja, dia belum sadar sepenuhnya. lima belas menit kemudian Sulli sudah memparkirkan mobil di hadapan Soojung. Soojung segera masuk ke dalam mobil Sulli.

“Ya ampun Jung Soojung. Apa yang terjadi denganmu?” tanya Sulli saat melihat penampilan Soojung.
“Memang ada apa?” tanya Soojung bingung.
“Lihatlah!” Sulli memberikan cermin yang selalu dibawanya ke Soojung. Soojung mengambilnya lalu memperhatikan wajahnya. Selama satu menit gadis itu terdiam hingga akhirnya dia menemukan kesadarannya 100%.
“Astaga! Apa yang terjadi denganku? Omo! Wajahku!” Soojung memegangi pipinya beberapa kali.
“Kau terlihat seperti seorang gadis yang habis menghabiskan malamnya dengan seorang pria, Jung Soojung” ungkap Sulli. Gadis itu menjalankan mobilnya menjauhi apartemen Gwandong.
“Itu tak mungkin!” Soojung masih memandangi wajahnya di cermin.
“Tapi terlihat seperti itu!” Soojung menyimpan cermin di dashboard mobil lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
“Aku bahkan tak ingat apapun tentang kejadian semalam” gumam Soojung sambil memijit pelipisnya. Dia merasa pusing tiba-tiba.
“Lebih baik kau singgah dulu di rumahku. tak mungkin kau pulang ke rumah dengan keadaan seperti itu.” Soojung hanya mengangguk mengiyakan.

-o-

“Kau menginap di rumah Sulli semalam?” tanya ibu Soojung. Soojung yang sedang tiduran di kasurnya mengangguk.
“tentu saja, bu.”
“tapi semalam Myungsoo yang mengangkat telfonku lalu berkata bahwa kau menginap di apartemennya.” Jelas ibu Soojung. Soojung sontak bangun dari tidurnya.
“Apa? Siapa? Kim Myungsoo? Aku? Menginap? Di apartemennya?” tanya Soojung terkejut. Ibunya mengangguk.
“Ya, semalam aku menelponmu lalu Myungsoo menjawabnya.” ucap ibunya lagi.
“Jadi, Jung Soojung, semalam kau di mana?” tanya ibunya dengan tatapan selidik. Soojung cengengesan tak jelas.
“hehe, aku menginap di apartemen Myungsoo, bu.” ucap Soojung. ibunya dengan cepat menghampiri Soojung. duduk di kasur gadis itu.
“Kalian melakukan apa saja?” tanya ibunya penasaran.
“Tidak! Kami tidak melakukan apapun, bu!” ucapnya dengan cepat.
“masa? sepasang cowok dan cewek berduaan di dalam apartemen, tidak mungkin tidak terjadi apapun.” ibunya menggoda Soojung.
“Ibuuu!” teriak Soojung. Pipi gadis itu memerah tiba-tiba. Ibunya tertawa lalu segera keluar dari kamar Soojung.

“Yang benar saja, kami tak mungkin melakukan apapun!” gerutu Soojung sambil mengipas-ngipas wajahnya dengan tangan.

ponselnya tiba-tiba bergetar. Ada pesan masuk.

‘from : 01851xxxxxxx

High heelsmu ketinggalan. Datang ambil sebelum aku buang!’

-to be continue-