Tag

, , , ,

Title : With You | Author : Reza C Warni | Cast : Jung Soojung, Kim Myungsoo, Kim Jongin | Other Cast : Kang Seulgi | Genre : Romance | Rated : T to M (maybe) | Duration : Chaptered

.

.

“Bertemu denganmu adalah bencana bagiku, menghabiskan waktu bersamamu adalah siksaan bagiku, dan..jatuh cinta padamu adalah karma untukku” -Kim Myungsoo

“Bertemu denganmu adalah pilihan bagiku, menghabiskan waktu bersamamu adalah proses bagiku, dan…jatuh cinta padamu adalah hasil untukku” -Jung Soojung

.

.

Poster by Jungleelovely

.

.

Soojung menekan bel beberapa kali. Gadis itu memegang tali tas selempangnya sambil menunggu pintu terbuka. Hampir semenit sampai akhirnya pintu terbuka dan menunjukkan sesosok lelaki yang mengenakan kaos putih dan celana training hitam.
“Ini high heelsmu.” tanpa mempersilahkan Soojung masuk, Myungsoo menyodorkan high heels Soojung ke hadapan gadis itu. Soojung tak mengambilnya, Dia memandang ke dalam apartemen Myungsoo. Sesekali menjijit agar bisa melihat dengan jelas.
“aku lapar, ini waktunya makan siang. apa kau punya makanan?” tanya Soojung.
“tak ada. pergi” suruh Myungsoo. lelaki itu hendak menutup pintu namun ditahan oleh Soojung.
“Kau tak lapar? Kau sudah makan siang?” tanya Soojung.
“tidak. belum.” jawab Myungsoo namun sepertinya perutnya tak bisa diajak kompromi. Tiba-tiba saja berbunyi dan membuat Soojung menahan senyumnya. Gadis itu mendorong Myungsoo pelan lalu masuk ke dalam. Dia melepas sepatu sportnya lalu memakai sandal rumah.

Myungsoo menutup pintu lalu menghampiri Soojung. menarik bahu gadis itu hingga menoleh ke arahnya.
“Aku tak menyuruhmu masuk. Keluar!” suruh Myungsoo. Tatapannya yang tajam tak membuat nyali Soojung menciut.
“Aku lapar, kau lapar. Aku akan memasak sesuatu. Apa kau punya bahan makanan di kulkas?” Soojung memasang wajah polosnya lalu kembali berjalan ke dapur apartemen Myungsoo. Myungsoo mengikutinya dari belakang sambil terus menyuruh gadis itu untuk pergi.

Soojun membuka kulkas. mengeluarkan beberapa bahan makanan yang dilihatnya.
“Keluar. Jangan menyentuh apapun!” Myungsoo mencoba menjauhkan Soojung dari kulkas.
“Hei, diamlah, tuan Kim. aku akan memasak. Aku tahu kau lapar” ucap Soojung.
“Aku tak lapar sama sekali” dan didetik berikutnya perut Myungsoo kembali berbunyi. Soojung kembali menahan tawanya. Gadis itu segera memakai apron lalu mulai memotong sayuran dan beberapa bahan makanan lainnya.

Myungsoo mengalah kemudian memilih duduk di sofa, membelakangi Soojung.
“Jika aku tak memakan masakanmu, kau harus segera keluar dari sini. tapi jika aku menghabiskannya, kau harus mencuci piring.” Sahut Myungsoo.
“Heh? Kenapa tak ada yang menguntungkan untukku?” Soojung memprotes namun tangannya masih tetap melakukan pekerjaannya.
“Kau seorang gadis, seorang calon istri yang akan mengurus dapur.” ucap Myungsoo santai.
“Ya, calon istrimu.” balas Soojung sambil melirik Myungsoo sebentar. Dia mulai memasukan potongan sayurannya ke dalam air yang mendidih.
“Bukan seperti itu maksudku!” Myungsoo menoleh, memberi tatapan tajam ke Soojung. Soojung mengendikkan bahunya.
“tapi begitu kenyataannya”
“aku tak mau menikah denganmu!”
“aku juga tak bilang ingin menikah denganmu.”
Myungsoo mengerang frustasi mendengar balasan Soojung. Lelaki itu kehabisan kata-kata. Soojung tertawa senang dalam hati.

Hampir sepuluh menit menunggu, Soojung akhirnya mengangkat panci dari atas kompor. Memindahkannya ke atas meja. Dia mulai menyendokkan nasi ke piringnya dan piring Myungsoo.
“Hei, Myungsoo-ssi. Kau tak ingin makan?” tanya Soojung. Gadis itu sudah duduk manis di depan piringnya. Myungsoo menghampirinya lalu duduk di hadapan Soojung.

“Aku lebih tua darimu” ucap Myungsoo sambil menyendok sup yang dibuat oleh Soojung ke piringnya.
“Jadi, apa aku harus memanggilmu ‘oppa’?” Soojung mengucapkan kata ‘oppa’ dengan nada manja yang dibuat-buat. Myungsoo bergidik ngeri.
“Jangan memanggilku seperti itu. itu terdengar menjijikkan” ungkap Myungsoo. Soojung tertawa pelan.
“baiklah, oppa” kali ini dia mengucapkannya dengan benar.
“ya, begitu lebih baik.” Myungsoo meniup sup yang ada di sendoknya lalu mulai memasukkan ke dalam mulutnya. Soojung melakukan hal yang sama.
“Bagaimana?” tanya Soojung penasaran.
“Biasa saja.” kata Myungsoo lalu mulai makan.
“Benarkah? kata Jongin, sup buatanku adalah sup terenak yang pernah dia rasa.” kata Soojung lalu menyuapkan makanan ke mulutnya. Entah karena apa, Myungsoo menaruh sendoknya ke atas meja dengan sedikit kasar. Nafsu makannya tiba-tiba hilang.
“Keluar”
“hah? Kenapa? Aku belum menghabiskan makananku!” Myungsoo berdiri dari duduknya. Mendekati Soojung lalu menarik lengan gadis itu yang tadinya akan memasukkan makanan ke mulutnya.
“Keluar kubilang!” bentak Myungsoo. Laki-laki itu menarik Soojung dengan kasar. Menyeret gadis itu hingga keluar dari pintu. Dia melempar sepatu sport serta high heels Soojung lalu menutup pintu dengan kasar.
“Lelaki gila!” teriakan Soojung terdengar dari balik pintu. Myungsoo mengabaikannya. Kembali mendekati meja makan. Menatap makanan di atas meja dengan tatapan tak nafsu.

Myungsoo berdecak kesal namun kembali duduk di tempat duduknya tadi. Menghabiskan nasi serta supnya. Setelah selesai makan, Myungsoo memindahkan piringnya ke bak cuci piring. Dia kembali ke meja mengambil piring Soojung yang masih berisi nasi dan sup lalu menaruhnya ke bak cuci piring, dia kembali lagi ke meja mengambil panci yang masih berisi sup buatan Soojung, menumpah isinya ke bak cuci piringnya. Myungsoo mengacak rambutnya kemudian berjalan ke sofa. Membanting dirinya di sana dan terlelap.

-o-

“Kau dari mana, Soojung?” tanya ibunya ketika Soojung baru memasuki rumah.
“Aku dari apartemen Myungsoo, bu.” Ibunya menghampiri Soojung. Senyum manis terpatri di wajahnya.
“Benarkah? Kalian sudah sedekat itu? aigoo, padahal malam itu kau menolak dijodohkan dengannya.” ucap ibunya dengan nada menggoda. Soojung berdecak.
“Jangan salah paham, bu. Aku hanya mengambil ini.” Soojung memperlihatkan high heelsnya.
“ck, itu hanya alasanmu agar bisa bertemu dengannya.”
“Ibu!!” Soojung berteriak kesal sementara ibunya hanya tertawa kecil.

Soojung memilih meninggalkan ibunya. Gadis itu memasuki kamarnya sambil menghentak-hentakan kaki. Melempar tubuhnya begitu saja ke atas kasur.

-o-

“Hai, Soojung. boleh aku duduk di sini?” tanya Moonsoo. Lelaki itu berdiri di samping meja yang ditempati Soojung. Di tangannya terdapat tray yang berisi makanan dan minuman. Soojung mendongak kemudian tersenyum.
“Tentu.” ucapnya.

Moonsoo meletakkan tray di depan tray Soojung. Dia lalu duduk di hadapan Soojung.
“Jadi, ada apa denganmu dan Jongin?” Moonsoo memulai percakapan. Soojung mengunyah makanan kemudian menelannya.
“Entah. Sejak berpacaran dengan Seulgi, dia menghindariku.” ungkap Soojung sambil melirik ke meja yang berada di pojok, di mana Jongin dan Seulgi sedang bercanda-ria.
Moonsoo menganggukkan kepalanya mendengar ungkapan Soojung. Dia menyendokkan makanan ke mulutnya, mengunyah, kemudian menelan.
“Kukira kalian bertengkar.” ucapnya.
“Tidak. Aku bahkan sedikit kecewa padanya.” Soojung kembali mengunyah.
“Kenapa?” Tanya Moonsoo. Soojung menatap lelaki di hadapannya.
“Kau bisa menjaga rahasia?”
“Aku akan senang jika kau memberiku kepercayaan.”
“Baiklah. Sebenarnya, sebelum dia jadian dengan Seulgi, dia sempat bilang kepadaku bahwa dia ingin menyatakan perasaannya padaku. Kau tahu? Aku sangat senang mendengar itu karena jujur saja aku menyukai Jongin. Entah sejak kapan.” Soojung memilih curhat ke lelaki satu ini. Menurutnya Moonsoo adalah tipe orang yang bisa menjaga rahasia.
“Benarkah? Kau pasti sangat sakit hati di hari itu.” ucap Moonsoo dengan ekspresi kasihan. Dia kemudian mengulurkan tangannya ke kepala Soojung, mengacak rambut gadis itu, “Jangan sedih. Pasti ada yang lebih baik dari dia.”
Soojung menampilkan senyum tipisnya, “Aku tak sedih kok.” bohong.

-o-

“Ada perlu apa kau ke sini?” Myungsoo bertanya dengan nada ketus. Soojung tersenyum lalu mengangkat tangannya yang memegang bungkusan di hadapan Myungsoo.
“Aku tahu kau belum makan malam. Aku tak memiliki teman makan, Jadi ayo makan bersama!” ucap Soojung lalu menerobos masuk ke dalam apartemen Myungsoo.
“Aku tak mau makan malam bersamamu. Keluar!” Myungsoo menarik tangan Soojung.
“Hei, oppa. Ayolah” Soojung membujuk, “aku tak mungkin membuang makanan ini.” lanjutnya.
“Itu urusanmu! Keluar!” Ucapnya sambil menyeret Soojung ke pintu.
“Kau jahat sekali. Hanya kali ini!”
“Aku tak pernah bilang aku orang baik. tak ada!”
“Oppa, kita bisa makan sambil mendiskusikan cara membatalkan perjodohan ini!” Myungsoo berhenti menarik Soojung. Lelaki itu kemudian menatap Soojung.
“Baiklah, untuk membatalkan perjodohan. ok, kali ini saja!” Soojung tersenyum senang kemudian mengangguk.

Gadis itu berjalan ke dapur, memindahkan makanan yang ada di kotak ke piring. Setelah itu dia membawa dua piring di tangannya mendekati Myungsoo yang duduk di sofa sambil menonton tv.
“Ini.” Soojung menyodorkan piring yang ada di tangannya ke Myungsoo. Myungsoo menerimanya lalu mulai makan. Soojung duduk di samping Myungsoo, dia mengikuti Myungsoo yang makan sambil nonton.
“Jadi, apa kau sudah punya rencana?” tanya Myungsoo. Soojung menggeleng.
“Belum.”
“Ya ampun..” Myungsoo mendengus.
“Kau sendiri belum memikirkan rencana apapun?” tanya Soojung. Myungsoo menoleh ke gadis itu.
“Aku punya.”
“Apa?”
“Kau harus menjelekkan dirimu di hadapan orang tuaku.” Myungsoo mengeluarkan idenya.
“Apa?!” Soojung melotot ke lekaki itu.
“Kenapa? Kau tahu, kalau orang tuaku tak menyukaimu maka perjodohan ini akan batal.” jelasnya.
“Kenapa tidak kau saja?”
“Maksudmu?”
“Kau menjelekkan dirimu sendiri di hadapan orang tuaku.” balas Soojung.
“Aku tak mau. Aku selalu terlihat sempurna di mata orang.”
“Tapi untukku tidak.”
“Kau pengecualian karena kau telah menghancurkan semuanya.” Soojung menatap tajam lelaki itu.

Suara pintu yang terbuka membuat Myungsoo panik. Soojung tampak terlihat bingung.
“Ada apa?” tanya Soojung.
“Itu pasti ibu. Kau sembunyi dari sini. cepat!” Soojung dan Myungsoo menaruh piring mereka di atas meja. Myungsoo berdiri dengan cepat lalu memakai sandalnya. Ketika ingin berjalan, kakinya terkait oleh kaki Soojung dan alhasil dia menindih gadis itu di atas sofa.

“Myung-OMO!” terdengar pekikan dari seorang wanita. Myungsoo bangkit dari acara tindih-menindihnya lalu memandang wanita yang mematung di dekat tv. Soojung segera bangkit berdiri di samping Myungsoo. Matanya membulat saat mendapati ibu Myungsoo sedang berdiri mematung dengan tangan yang menutup bibirnya.

-to be continue-