Tag

, , ,

untitled-59

Title : Sunbaenim | Author : Reza C Warni | Cast : Oh Sehun, Shin Yoonjo | Genre : Romance, School Life |Rated. T | Duration : Oneshot

.

.

“Aku membencimu. Kau gadis menyebalkan yang pernah kutemui.”

.

.

Poster by SelviakimPoster Channel


Aku menghempaskan tangannya dengan kasar, mendorongnya hingga tersandar di tembok pembatas rooftop sekolah. Aku kesal, aku muak, perasaanku benar-benar dipermainkan.
Dia melayangkan ekspresi bingungnya dan aku hanya menatapnya tajam.
“Aku membencimu. Kau gadis bodoh, ceroboh, jelek, tidak tahu malu, dan juga gila. Kau gadis menyebalkan yang pernah kutemui. Aku bahkan pernah berharap untuk tidak pernah bertemu denganmu.” Ucapku dalam satu tarikan napas. Kulihat dia begitu terkejut, matanya membulat dan terlihat memerah−ingin menangis mungkin.

.
.

__oOo__

Baru sebulan aku berada di sekolah ini, ‘mereka’mulai bermunculan lagi. Sama seperti saat sekolah menengah pertama, gadis-gadis mulai menyatakan perasaannya padaku, mendekatiku, menamakan diri mereka sebagai fansku, memuja-mujaku, dan hal lainnya seakan-akan aku adalah idola, artis terkenal.

Aku sebenarnya muak dengan semua itu. Tapi aku tak bisa menolak. Salahkan pada wajahku yang tampan, kekayaan orang tuaku, dan juga aku yang masuk ke kelas ini, kelas unggulan. Yeah, sekolahku yang sekarang memberi perbedaan antara anak yang pintar dan yang biasa. Aku termasuk anak yang pintar karena masuk di kelas unggulan. Aku tahu, aku banyak memuji diri sekarang. HAHA

“Hey! Sehun! Ayo ke kantin, sekarang waktunya istrahat.” Seseorang tiba-tiba saja menepuk pundakku seraya mengajakku ke kantin. Aku hanya mengangguk sebagai respon atas ajakannya.

Ah ya, namaku Oh Sehun.

__oOo__

Setelah mengisi perut di kantin, aku dan temanku yang bernama Kim Jongin ini segera berjalan meninggalkan kantin. Sepanjang jalan kami bercanda bersama. Dan oh, lihatlah gadis-gadis ini, mereka menatap kami seolah-olah kami adalah pangeran tampan dari negeri dongeng. Beberapa di antara mereka bahkan ada yang menjerit.ck, astaga.

“Sehun-ah”

Saat melewati kelas sebelas, ada seorang kakak kelas yang memanggilku. Aku dan Jongin menghentikan langkah kami. Kami berdiri di depan pintu, sementara senior yang memanggilku tadi berdiri di hadapanku. Dia adalah seniorku sejak sekolah menengah pertama. Aku tak menyangka bisa bertemu dengannya di sini.

“Hai, Ara nuna. Ada apa?” aku bertanya. Ara mengulurkan handphonenya di hadapanku.
“Nomormu.”

Teriakan-teriakan terdengar dari dalam kelas. Aku mencoba melihat ke dalam. Di sana ada seorang gadis yang sedang menutupi sebelah wajahnya dengan satu tangan. Murid-murid yang lain berteriak menggodanya sambil melirikku. Gadis tadi ikut melirikku, hanya sebentar, lalu menyembunyikan dirinya di bawah meja. Aku sempat melihat semburat merah di wajahnya. Ada apa? Apa dia penggemarku? Oh aku terlalu percaya diri.

Aku kembali menatap Ara nuna, gadis cantik ini menatapku sambil tersenyum. Aku menggaruk alisku.
“Maaf nuna, aku tak hafal nomorku.” Ucapku. Dia terlihat agak kecewa.
“ah, bagaimana kalau aku mengambil nomormu, nuna? Nanti aku akan menghubungimu.” Usulku. Ara nuna mengangguk. Aku meminjam ponsel Jongin untuk mencatat nomor Ara nuna. Ya, aku lupa membawa ponsel tadi.

Dan semua mulai dari sini.

¬__oOo__

Hari-hariku mulai berubah sejak saat itu. Mulai ada satu nama yang selalu kudengar tiap harinya. Bukan hanya teman-teman sekelasku yang menyebut nama itu, tetapi teman dekatku dari kelas lain pun menyebutnya.
Semua berawal dari gosip tentang seorang senior yang menyukainya. Padahal banyak senior yang menyukaiku, tapi hanya ada satu yang menarik perhatian teman-temanku. Senior yang terkenal ceria juga cuek—kata teman-temannya.

Aku tak tahu apa yang membuat teman-temanku menggodaku dengan nama senior itu. Mereka bahkan dengan jelas tahu kalau aku sedikit pun tak menyukai senior itu. Malah dengan terus diganggunya aku, aku jadi semakin tidak suka.

“Shin Yoonjo!” aku yang sedang duduk sambil membaca bukuku refleks menengok ke pintu kelas. Murid yang lain pun melakukan hal yang sama.

Di sana, tepat di depan pintu, Ara nuna lewat diikuti dengan seorang gadis. Gadis yang bernama Shin Yoonjo itu menoleh ke dalam kelasku. Melirikku, dan ketika tatapan kami bertemu dia segera memalingkan wajahnya. Kedua tangannya memegang pipinya lalu berlari seolah habis melihat setan.

Teman-teman sekelasku mulai bersiul menggodaku. Menyebut-nyebut nama gadis tadi sambil terus menggodaku.
Ya, nama yang kumaksud adalah Shin Yoonjo. Nama senior yang menyukaiku.

__oOo__

Aku baru selesai merapikan buku-buku ke dalam tas, Jongin menghampiriku. Lelaki berkulit agak hitam ini merangkulku. Dia mulai mengoceh tentang beberapa gadis dari kelas sebelah yang sangat cantik menurutnya. Selain itu, dia juga menceritakan tentang seorang gadis yang menyatakan perasaan padanya. Aku awalnya biasa saja, tapi ketika dia menyebut nama gadis itu aku terperangah. Tentu saja! Gadis itu Krystal Jung. Catat, Krystal Jung. Gadis yang begitu populer di sekolah ini.

Sepanjang jalan aku sesekali melirik temanku yang sedang mengoceh ini. Keningku bertaut, otakku memunculkan pertanyaan yang sama beberapa kali. ‘Apa yang hebat dari Si Hitam ini? Bagaimana bisa seorang Krystal Jung menyukainya?´ ya begitulah bunyi pertanyaan yang berputar di kepalaku.

Terlalu serius mendengarkan ocehannya, aku sampai sedikit terkejut ketika dia berhenti. Aku baru sadar kami telah sampai di gerbang sekolah. Dia melepaskan rangkulannya lalu melambai ke seseorang. Aku mengikuti pandangannya dan menatap tak percaya. Dia tak berbohong. Itu benar Krystal Jung!

“Hey, aku pulang dengannya ya. Omong-omong, kau bisa pulang dengan senior itu.” Pamit Jongin. Dia sempat menunjuk seorang gadis yang berjarak beberapa meter di hadapan kami. Jongin tersenyum menggoda, menepuk bahuku, lalu berlari ke arah Krystal yang terlihat sedang menunggunya.

Aku mendengus ketika menyadari gadis yang ditunjuk Jongin adalah Shin Yoonjo. Senior yang sering mengganggu kehidupanku akhir-akhir ini itu sedang mengobrol dengan teman-temannya. Terlihat salah satu dari temannya itu menunjuk ke belakang, ke arahku lebih tepatnya. Yoonjo berbalik dan matanya membulatnya. Dia bahkan sampai mundur beberapa langkah ke belakang hingga kakinya tersandung dan akhirnya terjatuh. Hei, apa aku semenyeramkan itu?

Siswa-siswi yang melihat kejadian itu tertawa terpingkal-pingkal. Beberapa dari mereka memegangi perut masing-masing dengan tangannya satunya menunjuk Yoonjo yang sedang dibantu temannya berdiri. Aku berdecak, dengan cepat aku berjalan melewati mereka. Apa gadis itu benar-benar bodoh? Hanya dengan melihatku saja reaksinya sampai begitu. Ck

__oOo__

Bulan demi bulan telah berlalu. Tak ada yang berubah banyak. Hari-hariku masih dipenuhi dengan tingkah konyol senior bernama Shin Yoonjo itu. Tiap hari dia melewati kelasku sambil melirikku, mengikutiku ke perpustakaan, bertingkah memalukan di depanku-seperti terjatuh, berlari menjauh, bahkan menumpahkan minuman di pakaiannya sendiri saking terkejutnya melihatku-, dan dia selalu menontonku saat latihan basket.

Aku mulai terbiasa dengan ini semua. Mulai menganggap bahwa ini hiburan semasa menengah atas. Oh ya, hari ini adalah hari terakhir pentas seni di sekolahku. Aku selaku anggota osis duduk tepat di belakang juri bersama Ara nuna, Dongho, dan beberapa anak osis lain yang belum mendapat tugas.

Ara nuna tiba-tiba berdiri, dia menghadap ke belakang dan sepertinya memanggil seseorang. Beberapa menit kemudian, seseorang itu telah duduk di samping Ara nuna. Aku menoleh untuk melihatnya dan yeah itu Yoonjo sunbaenim.

Musik tiba-tiba terdengar. Dua orang gadis mulai naik ke atas panggung. Dan lihatlah itu, betapa antusiasnya Yoonjo dan Dongho. Yoonjo bahkan ikut menyanyi.
“Ya! Dongho-ah! Itu lagu B.A.P!” Yoonjo berteriak histeris.
“Ah iya. Kau lihat gadis yang matanya dihitamkan sebelah?”
“Ya, kenapa?”
“Dia teman sekelasku. Salah satu penggemar B.A.P sepertimu.”
“Benarkah? Pantas gerakannya total sekali. Mungkin dia-“
Dongho dan Yoonjo tenggelam dalam obrolan mereka. Aku dan Ara nuna menjadi pendengar setia. Tapi itu tak bertahan lama karena sekarang Ara nuna mulai mengajakku mengobrol.

“Sehun-ah, ada seseorang yang menyukaimu.” Mulainya. Aku menoleh sambil menampilkan senyumku. Aku tahu siapa yang dimaksud Ara nuna. Itu pasti Yoonjo sunbaenim.
“sepupu Dongho, ‘kan?” tebakku sambil mengendikkan daguku ke Yoonjo yang masih sibuk mengobrol dengan Dongho.
Ara nuna dengan cepat menggeleng. “Bu-bukan! Bukan dia!”
“lalu siapa?” tanyaku.
“Rahasia haha” ucapnya dengan tawa canggung diakhir. Tentu saja itu membuktikan bahwa tebakanku tadi benar. Kalau bukan Yoonjo sunbae, siapa lagi?

Ah iya, Dongho dan Yoonjo adalah salah satu fanboy, fangirl. Maka dari itu mereka begitu antusias saat mendengar lagu boyband/girlband favorit mereka diputar.

__oOo__

Tahun ajaran baru telah dimulai sejak beberapa minggu lalu. Aku sekarang sudah kelas dua menengah atas dan masih dalam kelas unggulan. Yah, itu membuktikan bahwa aku pintar haha

Oh ya, aku mulai tidak pernah melihat Yoonjo sunbae melewati kelasku. Mungkin karena letak kelasnya yang berada di lantai atas. Kami hanya akan saling melihat disaat aku ke perpustakaan ataupun ke Lab Tik. Jadi begini, kelas satu dan dua serta kantor berada di lantai satu. Lantai dua ditempati oleh kelas tiga, lab tik, dan perpustakaan. Dan di lantai tiga ada kantin, lab biologi, lab kimia, dan lab fisika. Ruang olahraga dan seni berada di gedung sebelah.

Walau Yoonjo sunbae tidak pernah lagi lewat di depan kelasku, tapi tetap saja teman-teman sekelasku menggangguku dengan menyebut-nyebut nama ‘Shin Yoonjo’. Aku tak lagi mempermasalahkan hal itu karena aku sudah biasa.

Bulan demi bulan kembali berlalu begitu saja. Ujian terakhir kelas tiga semakin di depan mata itu artinya Ara nuna dan murid kelas tiga lainnya tak lama lagi akan meninggalkan sekolah ini dan aku juga teman-teman seangkatanku akan menempati kelas tiga. Tak lama lagi. Tinggal dua bulan lagi.

“Sehun-ah, temani aku ke perpustakaan ya” pinta Sulli, teman sekelasku. Aku mengangguk.

Kami mulai berjalan keluar kelas, menaiki tangga, dan berjalan di koridor lantai dua. Saat melewati kelas Yoonjo sunbae, aku sedikit terkejut. Aku dan Sulli berhenti tepat di depan pintu kelasnya. Bahkan murid kelas ini tak menyadari kehadiran kami.

Di sana, tepat di depan kelas, Yoonjo sunbae dan Ara nuna sedang dance tidak jelas. Di meja guru ada beberapa siswa yang sedang menonton film di laptop. Tepat di depan Yoonjo sunbae dan Ara nuna, ada Myungsoo sunbae, mantan ketua osis, yang sedang tertawa melihat tingkah Yoonjo sunbae dan Ara nuna. Di meja ujung ada beberapa siswi yang sedang dandan. Ada juga beberapa siswa-siswi yang sedang kejar-kejaran di sekitar Ara nuna dan Yoonjo sunbae. Mereka benar-benar menikmati saat-saat terakhir mereka berada dalam satu kelas yang sama. Dua bulan lagi mereka akan berpisah dan lanjut di universitas yang berbeda-beda. Mengejar mimpi masing-masing.

Aku tersenyum melihat pemandangan di hadapanku ini. Walau terlihat berantakan, tapi benar-benar menampilkan keadaan yang akan menjadi kenangan indah nantinya. Tiba-tiba Sulli menyenggol lenganku. Aku tersadar lalu segera menoleh ke Sulli.

“Terpesona dengan Yoonjo sunbae, hm?” goda Sulli sambil menampilkan senyum jahilnya. Aku menggeleng lalu mulai melangkah menuju perpustakaan yang berada di ujung koridor. Sulli menyusulku.
“Tentu saja tidak. Aku hanya terpesona dengan pemandangan di kelas tadi. Mereka benar-benar menghabiskan waktu mereka dengan menciptakan kenangan yang indah.” Ungkapku. Sulli yang berada di sampingku mengangguk-nganggukkan kepalanya.
“Ya, dua bulan lagi mereka akan berpisah.”

__oOo__

“Sehun, cepatlah!” Jongin yang berdiri di depan pintu dari tadi meneriakiku terus. Aku meraih tas lalu berlari ke pintu.
“Ayo, cepat!” seruku lalu berlari di koridor lantai satu.
Kami berdua menaiki tangga menuju lantai dua. Hari ini ada pelajaran TIK dan itu wajib di lab TIK. Teman sekelasku yang lain sudah berada di lab sejak lima menit yang lalu. Aku dan Jongin mungkin juga sudah berada di sana sejak tadi kalau saja aku tak sibuk mencari folpenku.

Kami memasuki lab TIK dengan tergesa-gesa. Kami bernafas lega ketika tak menemukan guru killer itu berada di mejanya. Aku dan Jongin memilih duduk di dekat pintu. Tak lama, guru killer itu masuk dan pelajaran dimulai.

“Ara-ya, kau tahu? Tadi pagi aku bertemu seorang adik kelas yang keren sekali!”
Aku mengerutkan keningku saat mendengar suara itu. Aku kenal suara itu. Kenal sekali. Aku mempertajam pendengaranku.
”Benarkah? Di mana Yoonjo-ah?”
“Di parkiran. Tadi saat aku lewat di parkiran, dia sedang memarkirkan motornya, membuka helmnya, dan menggoyang-goyang rambutnya yang sedikit menutupi wajahnya. Itu terlihat keren!! Rambutnya yang acak-acakan..oh my!”
Suara Yoonjo sunbae terdengar begitu gembira. Aku entah kenapa merasa sedikit kesal mendengarnya.
“Hei, hei! Bagaimana dengan Sehun?”
“Aku tak menyukainya. Kalian yang memulai gosip itu. Aku bahkan sudah banyak kali mengatakan bahwa aku tak menyukainya.”
Rasa marah tiba-tiba saja muncul di hatiku. Folpen yang sedari tadi kupegang kini kuremas dengan kuat. Tangannya yang satunya mengepal.
“Tapi aku yakin kau menyukainya.”
“Tidak, Ara-ya. Sepertinya aku sekarang sudah menemukan seseorang yang kucintai! Aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengan adik kelas itu! Aku harus cari tahu tentangnya!”
Krak
Folpen yang tadi kuremas telah terbagi dua. Jongin yang ada di sampingku memandang dengan tatapan terkejut. Tidak, aku benar-benar marah sekarang. Sial!

__oOo__

Hari ini adalah hari kelulusan kakak kelas. Aku dan beberapa anggota osis lainnya berdiri di samping panggung. Kami memperhatikan kakak kelas yang duduk di kursi depan sana sementara kepala sekolah menyampaikan pidato panjang lebarnya. Tatapan tajamku terpaku pada gadis berambut pirang berponi. Aku mengepalkan kedua tanganku.

“Tahun depan kita akan berada di sana.” Ucap Jongin yang berdiri di sampingku.
“Hng.” Hanya itu responku.
“Kau kenapa?” tanya Jongin. Aku menggeleng tanpa mengalihkan tatapanku. Kulihat dia sedang tertawa bersama Ara nuna dan teman-temannya yang lain.

Setelah pidato panjang lebar dari kepala sekolah, satu-persatu dari kakak kelas mulai naik ke atas panggung untuk mengambil ijazahnya. Setelah semua telah mengambil ijazah masing-masing, mereka semua berkumpul di atas panggung. Salah satu guru menghampiriku.

“Sehun, tolong ambil beberapa foto.” Ujar Kim songsaengnim sambil menyerahkan kamera. Aku mengambilnya lalu segera naik ke atas panggung.

Aku mulai mengambil beberapa foto kakak kelas bersama guru-guru. Setelah selesai, Ara nuna menghampiriku.
“Sehun-ah, tolong ambil fotoku bersama Yoonjo ya” pinta Ara nuna. Aku mengangguk.

Yoonjo dan Ara nuna berdiri bersampingan. Yoonjo memegang bunga dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya merangkul Ara nuna. Mereka tersenyum lebar ke arahku, lebih tepatnya ke Arah kamera. Aku memberi aba-aba dan jepret.
“Satu kali lagi Sehun-ah!” teriak Ara nuna. Aku mengangguk. Mereka mulai kembali berpose.
“1..2..”
“Tunggu!” teriak Myungsoo sunbae. Myungsoo sunbae dan Chanyeol sunbae mulai bergabung bersama Yoonjo sunbae dan Ara nuna. Myungsoo sunbae berdiri di samping Yoonjo sunbae sementara Chanyeol sunbae berdiri di samping Ara nuna.
“1..2..3” Jepret.
“Terima kasih Sehun!” ucap Myungsoo sunbae. Aku tersenyum tipis lalu mengangguk.
“tunggu sebentar!” ucap Yoonjo sunbae tiba-tiba ketika aku ingin melangkah. Aku mengerutkan keningku.

Yoonjo sunbae berlari turun dari panggung. Dia mendekati seorang adik kelas yang berdiri di samping Jongin. Mungkinkah?
Mereka mengobrol sebentar lalu Yoonjo sunbae menarik tangannya. Mereka berjalan menaiki panggung lalu menghampiriku.
“Tolong foto kami berdua ya.” Yoonjo sunbae menatapku dengan tatapan memohon. Rasa marah yang menghampiriku barusan hilang dalam sekejap saat melihat tatapannya. Aku mengangguk.
Yoonjo melingkarkan tangannya di lengan Taeyong, si adik kelas. Yoonjo sunbae menampilkan senyum lebarnya sementara Taeyong hanya tersenyum tipis. Ah, jadi adik kelas yang dimaksud Yoonjo sunbae itu Taeyong ya. Apa kerennya dia? Cih.
Aku mengambil gambar mereka. Yoonjo sunbae mengucapkan terima kasih tapi aku mengabaikannya. Rasa marahku kembali muncul. Aku turun dari panggung, memberikan kamera tadi ke Jongin lalu kembali ke atas panggung. Aku menarik tangan Yoonjo sunbae yang masih mengobrol dengan Taeyong.
“Hei, Sehun, apa yang kau lakukan?” tanyanya sambil berusaha melepaskan genggaman tanganku. Aku kembali mengabaikannya dan terus menariknya.

__ooOoo__

.
.

Aku menghempaskan tangannya dengan kasar, mendorongnya hingga tersandar di tembok pembatas rooftop sekolah. Aku kesal, aku muak, perasaanku benar-benar dipermainkan.
Dia melayangkan ekspresi bingungnya dan aku hanya menatapnya tajam.
“Aku membencimu. Kau gadis bodoh, ceroboh, jelek, tidak tahu malu, dan juga gila. Kau gadis menyebalkan yang pernah kutemui. Aku bahkan pernah berharap untuk tidak pernah bertemu denganmu.” Ucapku dalam satu tarikan napas. Kulihat dia begitu terkejut, matanya membulat dan terlihat memerah−ingin menangis mungkin.
“Ka-Kau kenapa?” tanya dengan suara gemetar. Dia menunduk. Tak berani menatapku. Aku memegang dagunya lalu mendongakkan wajahnya hingga menatapku.
“Kau tanya aku kenapa?” bisikku. Aku berdecih kemudian menampilkan seringaianku. Dia mengalihkan pandangannya.
“Tatap aku Shin Yoonjo!” bentakku. Dia terlonjak kaget. Dengan takut-takut dia mulai menatapku.
“Kau menyukaiku.” Ucapku tegas. Dia menggeleng.
“Ti-tidak. Itu semua bo-bohong. A-aku tak pernah menyukaimu.” Ucapnya dengan terbatah. Aku kesal mendengarnya. Aku semakin menguatkan cengkramanku di dagunya membuat dia meringis.
“Kalau begitu, mulai sekarang dan seterusnya kau hanya menyukaiku. Tidak ada yang lain.” Aku mengeluarkan pernyataan mutlak dan di detik berikutnya aku menciumnya tepat di bibirnya. Hanya ingin meyakinkannya bahwa dia hanya boleh menyukaiku. Menyukai Oh Sehun.

FIN

FF paling gaje yang pernah ada -_- sempat stuck di tengah makanya jadi ancur gini. Makasih aja sama yang udah baca sampai akhir.
Oh ya, pemberitahuan aja, ff With You bakal telat dipost, telat banget malah soalnya saya lagi sibuk ngurus jadwal kuliah yang nggak sama cem SMA :’v kemungkinan dipost hari minggu atau senin depan. maaf banget.